Wednesday, September 10, 2014

Membantu Orang Lain

Bergelut dengan berbagai aktivitas keseharian kita, tentunya akan membuat kita semakin sibuk dan menghabiskan banyak waktu. Terkadang dengan berbagai aktivitas tersebut membuat kita sulit meluangkan waktu untuk berbagi kepada orang lain.

Gambar : http://tkmindonesia.blogspot.com

Dalam kehidupan nyata hari ini, amat sulit ditemukan orang yang mau berempati kepada orang lain. Padahal dibalik kemudahan dari kesulitan yang kita hadapi berada pada sejaumana kita mau berempati dengan orang lain. Sebagaimana HR Muslim. “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat.
Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hambaNya selama hambaNya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim)

Allah SWT, menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk dan memberikannya pilihan untuk menjalani kehidupan ini. Sehingga pada postingan saya ini, maksud yang ingin saya tekankan adalah mari bersama-sama untuk senantiasa belajar berbagi, senantiasa membantu bagi orang lain.

Lidi sebatang, tak akan bisa dengan mudah membersihkan dedaunan yang berserakan di halaman jika tidak diikat dengan kebersamaan untuk bersatu saling membatu menjadi seikat sapu lidi. Demikian pula manusia jika ingin bermanfaat maka harus bisa bersosialisasi dan bekerja sama dengan orang lain.

Saling membantu meringankan beban orang lain, Maka Insya Allah melalui jalan yang tanpa kita duga, Allah SWT akan membantu kita.

Terima kasih dan selamat beraktivitas.

Penghalang Rezeki

Setelah googling dan mencari-cari informasi lewat internet, saya membaca sebuah postingan yang ternyata bagus untuk di share...

Hal ini berkaitan dengan hal-hal yang menghalangi rezeki seseorang. Sebagaimana sebuah hadits, perhatikan bagi yang mencari rezeki Nabi saw bersabda, "seseorang itu terhalang dari rezeki karena dosa yang dilakukannya" (HR Ahmad)
http://jezsygeisha.blogspot.com

Makna "terhalang" ini bisa berarti terhalang dari rezeki secara harfiah bisa jadi juga bermakna terhalang dari nikmatnya rezeki yang ada misalnya, Allah menunda harta yang seharusnya miliknya, ini maksud "terhalang" atau Allah menjadikan hartanya tidak nikmat, ini juga sering pelaku maksiat merasa bisa mempercepat atau memperbanyak rezeki dengan dosa, padahal justru sejatinya dia sedang menghalangi rezeki mau segera nikah, malah pacaran, padahal itu maksiat malah jauh dari rezeki berkeluarga, kalaupun menikah, nikmatnya dicabut Allah.

Mau dapat harta banyak, lalu menyuap dan korupsi, malah maksiat jadilah ia jauh dari rezeki, bilapun dapat, barakahnya dicabut. Bila semua yang bisa kita nikmati dari Allah itulah rezeki maka jaga diri kita dari maksiat, dan selalulah bertaubat maka aku (Nabi Nuh) katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai, Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?" (QS Nuh 10-13).

Saya mendapatkan postingan ini dari postingan Ustadz Felix Siauw, semoga kita semua mendapatkan pencerahan dari apa yang dibagikan oleh beliau. Terima kasih dan selamat beraktivitas.

Friday, August 29, 2014

Penelitian Menurut para ahli

 http://aguskrisnoblog.wordpress.com

Beberapa definisi penelitian menurut para ahli :
  1. Menurut  kamus Webster’s New International, penelitian adalah penyelidikan yang hati-hati dan kritis dalam mencari fakta dan prinsip-prinsip; suatu penyelidikan yang amat cerdik untuk menetapkan sesuatu.  
  1. Menurut ilmuwan Hillway (1956) penelitian tidak lain dari suatu metode studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut.   
  1. Whitney (1960) menyatakan bahwa disamping untuk memperoleh kebenaran, kerja menyelidik harus pula dilakukan secara sungguh-sungguh dalam waktu yang lama. Dengan demikian, penelitian merupakan suatu metode untuk menemukan kebenaran, sehingga penelitian jug amerupakan metode berpikir secara kritis. 
  1. Whitney mengutip beberapa defenisi tentang penelitian yang diturunkan dibawah ini: “Penelitian adalah pencarian atas sesuatu (inquiry) secara sistematis dengan penekanan bahwa pencarian ini dilakukan terhadap masalah-masalah yang dapat dipecahkan (Parsons, 1946).” 
  1. Penelitian adalah suatu pencarian fakta menurut metode objektif yang jelas untuk menemukan hubungan antarfakta dan menghasilkan dalil atau hokum (John, 1949). 
  1. Penelitian adalah transformasi yang terkendalikan atau terarah dari situasi yang dikenal dalam kenyataan-kenyataan yang ada padanya dan hubungannya, seperti mengubah unsure dari situasi orisinal menjadi suatu keseluruhan yang bersatu padu (Dewey, 1936). 
  1. Penelitian merupakan sebuah metode untuk menemukan kebenaran yang juga merupakan sebuah pemkirian kritis (critical thinking). Penelitian meliputi pemberian defenisi dan redefenisi terhadap masalah, memformulasikan hipotesa atau jawaban sementara, membuat kesimpulan dan sekurang-kurangnya mengadakan pengujian yang hati-hati atas semua kesimpulan untuk menentukan apakah ia cocok dengan hipotesa (Woody, 1927). 
  1. Menurut Gee (1957) memberikan tanggapannya sebagai berikut: “Dalam berbagai defenisi penelitian, terkandung ciri tertentu yang lebih kurang bersamaan. Adanya suatu pencarian, penyelidikan atau investigasi terhadap pengetahuan baru, atau sekurang-kurangnya sebuah pengaturan baru atau interpretasi (tafsiran) baru dari pengetahuan yang timbul. Metode yang digunakan bisa saja ilmiah atau tidak, tetapi pandangan harus kritis dan prosedur harus sempurna. Tenaga bisa saja signifikan atau tidak. Dalam masalah aplikasi, maka nampaknya aktifitas lebih banyak tertuju kepada pencarian (search) daripada suatu pencarian kembali (re-search). Jika proses yang terjadi adalah hal yang selalu diperlukan, maka penelitian sebaiknya digunakan untuk menentukan ruang lingkup dari konsep dan bukan kehendak untuk menambah defenisi lain terhadap defenisi-defenisi yang telah begitu banyak.”

Filsafat Ilmu

Bagaimana awal mula adanya ilmu.
Ilmu lahir karena manusia diberkahi Tuhan suatu sifat ingin tahu. Keingintahuan seseorang terhadap permasalahan di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. Misalnya, dari pertanyaan apakah bulan mengelilingi bumi, apakah matahari mengelilingi bumi, timbul keinginan untuk mengadakan pengamatan secara sistematik, yang akhirnya melahirkan kesimpulan bahwa bumi itu bulat, bahwa bulan mengelilingi matahari dan bumi juga mengelilingi matahari. Juga bidang ilmu-ilmu sosial, keingintahuan tentang masalah-maslaah sosial telah membuat orang mengadakan pengamatan-pengamatan secara sistematik terhadap fenomena-fenomena sosial seperti Sosiologi, Antropologi dan sebagainya.
Bagaimana pendapat para ahli mengenai ilmu :
Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas, mengjangkau semua aspek tentang progress manusia secara menyeluruh. Termasuk didalamnya penetahuan yang telah dirumuskan secara sistematik melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. Maranon (1953).
Tan (1954) berpendapat bahwa ilmu bukan saja merupakan suatu himpunan pengetahuan yang sistematis, tetapi juga merupakan suatu metedologi. Ilmu telah memberikan metode dan system, yang mana tanpa ilmu, semua itu akan merupakan suatu kebutuhan saja. Nilai dari ilmu tidak saja terletak dalam pengetahuan yang dikandungnya sehingga si penuntut ilmu menjadi seorang yang ilmiah, baik dalam ketrampilan, dalam pandangan maupun tindak-tanduknya.
Ilmu membentuk kebiasaan serta meningkatkan ketrampilan observasi, percobaan (eksperimentasi) klasifikasi, analisa serta membuat generalisasi. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus-menerus, maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berfikir secara logis, yang sering disebut penalaran.
Konsep antara ilmu dan berpikir adalah sama. 
Dalam memecahkan masalah, keduanya dimulai dari adanya rasa sangsi dan kebutuhan akan suatu hal yang bersifat umum. Kemudian timbul suatu pertanyaan yang khas, dan selanjutnya dipilih suatu pemecahan tentative untuk penyelidikan.
Proses berpikir adalah suatu refleksi yang teratur dan hati-hati. Proses berpikir lahir dari suatu rasa sangsi akan sesuatu dan keinginan untuk memperoleh suatu ketentuan, yang kemudian tumbuh menjadi suatu masalah yang khas. Masalah ini memerlukan suatu pemecahan, dan untuk ini dilakukan penyelidikan terhadap data yang tersedia dengan metode yang tepat. 
Akhirnya, sebuah kesimpulan tentative akan diterima, tetapi masih tetap dibawah penyelidikan yang kritis dan terus-menerus untuk mengadakan evaluasi secara terbuka.
FIlsafat ilmu akan saya lanjutkan pada postingan berikutnya. terima kasih sudah berkunjung.