Friday, February 13, 2015

Masalah Banjir



Banjir tak henti-hentinya menjadi masalah bagi masyarakat di Indonesia, namun tak ada akibat jika tidak ada sebab…

Sedikit saya mengulas hasil pengamatan saya tentang penyebab terjadinya banjir yang meresahkan dan merugikan masyarakat dari berbagai segi terutama masalah kesehatan.

Betapa tidak, banjir kerap terjadi karena kesalahan manusia itu sendiri. Hal yang menjadi sorotan saya adalah :

1.      Sampah ada dimana-mana

Pemerintah dan segenap pemerhati kesehatan begitu gencar menyuarakan gerakan hidup bersih dan sehat, namun apalah daya semua kembali kepada individu masing-masing. Sering saya dapati masyarakat membuang sampah seenaknya, lebih parah lagi ketika terjadi hujan deras.. ada banyak orang yang membuang sampahnya ke parit atau selokan dengan dalih agar memudahkan sampah terbuang tanpa harus repot untuk membuang sampah pada tempat sampah umum.

Tidak hanya itu, banyak pula warga yang membuang sampah rumah tangga yang sudah dikumpulkannya ke pinggiran jalan yang kosong, dengan dalih tak ada tempat pembuangan sampah tanpa berpikir dampak yang bisa ditimbulkan…

Masyarakat lebih senang membuang sampah di kali, parit karena berpikir bahwa sampah tersebut nantinya akan mengalir, lantas pertanyaannya..apakah mereka tahu akan mengalir kemana sampah tersebut dan apakah itu tidak mengganggu ?? bahkan menurut dugaan saya banyak warga tahu bahwa hal itu sebenarnya salah namun tetap dilakukan.

Intinya adalah kebiasaan buruk warga yang tidak sadar hidup sehat tersebut harus diselesaikan.

2.       Pembangunan dimana-mana

Indikator keberhasilan sebuah Negara dalah ketika terlihat dari pembangunan dari Negara tersebut, namun yang saya maksudkan adalah…apakah pihak terkait sadar atau sudah memikirkan dampak dan solusi dari pembangunan tersebut sehingga pro terhadap kesehatan lingkungan sekitar.

Apakah ketika merencanakan pembangunan perhatian terhadap kesehatan lingkungan menjadi prioritas ataukah lebih cenderung pro kepada keuntungan dari pembangunan tersebut.

Perumahan dibangun dimana-mana tanpa memikirkan apakah kelak beberapa tahun kedepan tidak merendam perumahan tersebut, yang menurut saya harusnya sudah di pikirkan jauh sebelumnya sebelum membangun dan mencarikan solusi yang tepat. Tidak hanya sekedar menyelesaikan sebuah proyek semata.


3.      Selokan sulit dibersihkan dan selokan tertimbun oleh lumpur

Mengapa saya katakana selokan sulit dibersihkan ?? sebab warga pemilik rumah atau took kadang tak peduli ketika selokan di rumahnya sulit dibersihkan.. banyak warga menutup selokannya sampai kesulitan ingin membersihkannya dengan alasan sebagai jalan masuk kendaraan dan ditempati untuk tanaman di atasnya.

Tidaklah salah jika menutup/melakukan pengecoran diatas selokan sepanjang bisa dibersihkan, yang saya permasalahkan adalah kebanyakan selokan sudah tidak kelihatan karena tertutupi oleh “coran” jika demikian,, bagaimana cara membersihhkannya.

Perlu menjadi catatan bahwa jika hanya segelintir rumah yang bisa membersihkan selokannya.. maka sampah, lumpur dan material yang memenuhi selokan lainnya.. akan sulit untuk mengalir ke tempat pembuangan akhir, sehingga inilah salah satu penyebab dari banjir.

4.      Pemerhati kesehatan masyarakat masih kurang

Banyak yang resah jika terjadi banjir, namun yang mau memperhatikan kesehatan masyarakat masih kurang. Pemerhati yang saya maksudkan adalah orang-orang yang mau memperhatikan dan peduli dengan kesehatan di sekitarnya.

Saya bermaksud mengulas lebih banyak lagi, namun mungkin bisa dilain kesempatan, terima kasih atas perhatiannya…



Banjir tak henti-hentinya menjadi masalah bagi masyarakat di Indonesia, namun tak ada akibat jika tidak ada sebab…

Sedikit saya mengulas hasil pengamatan saya tentang penyebab terjadinya banjir yang meresahkan dan merugikan masyarakat dari berbagai segi terutama masalah kesehatan.

Betapa tidak, banjir kerap terjadi karena kesalahan manusia itu sendiri. Hal yang menjadi sorotan saya adalah :

1.      Sampah ada dimana-mana

Pemerintah dan segenap pemerhati kesehatan begitu gencar menyuarakan gerakan hidup bersih dan sehat, namun apalah daya semua kembali kepada individu masing-masing. Sering saya dapati masyarakat membuang sampah seenaknya, lebih parah lagi ketika terjadi hujan deras.. ada banyak orang yang membuang sampahnya ke parit atau selokan dengan dalih agar memudahkan sampah terbuang tanpa harus repot untuk membuang sampah pada tempat sampah umum.

Tidak hanya itu, banyak pula warga yang membuang sampah rumah tangga yang sudah dikumpulkannya ke pinggiran jalan yang kosong, dengan dalih tak ada tempat pembuangan sampah tanpa berpikir dampak yang bisa ditimbulkan…

Masyarakat lebih senang membuang sampah di kali, parit karena berpikir bahwa sampah tersebut nantinya akan mengalir, lantas pertanyaannya..apakah mereka tahu akan mengalir kemana sampah tersebut dan apakah itu tidak mengganggu ?? bahkan menurut dugaan saya banyak warga tahu bahwa hal itu sebenarnya salah namun tetap dilakukan.

Intinya adalah kebiasaan buruk warga yang tidak sadar hidup sehat tersebut harus diselesaikan.

2.       Pembangunan dimana-mana

Indikator keberhasilan sebuah Negara dalah ketika terlihat dari pembangunan dari Negara tersebut, namun yang saya maksudkan adalah…apakah pihak terkait sadar atau sudah memikirkan dampak dan solusi dari pembangunan tersebut sehingga pro terhadap kesehatan lingkungan sekitar.

Apakah ketika merencanakan pembangunan perhatian terhadap kesehatan lingkungan menjadi prioritas ataukah lebih cenderung pro kepada keuntungan dari pembangunan tersebut.

Perumahan dibangun dimana-mana tanpa memikirkan apakah kelak beberapa tahun kedepan tidak merendam perumahan tersebut, yang menurut saya harusnya sudah di pikirkan jauh sebelumnya sebelum membangun dan mencarikan solusi yang tepat. Tidak hanya sekedar menyelesaikan sebuah proyek semata.

3.      Selokan sulit dibersihkan dan selokan tertimbun oleh lumpur

Mengapa saya katakana selokan sulit dibersihkan ?? sebab warga pemilik rumah atau took kadang tak peduli ketika selokan di rumahnya sulit dibersihkan.. banyak warga menutup selokannya sampai kesulitan ingin membersihkannya dengan alasan sebagai jalan masuk kendaraan dan ditempati untuk tanaman di atasnya.

Tidaklah salah jika menutup/melakukan pengecoran diatas selokan sepanjang bisa dibersihkan, yang saya permasalahkan adalah kebanyakan selokan sudah tidak kelihatan karena tertutupi oleh “coran” jika demikian,, bagaimana cara membersihhkannya.

Perlu menjadi catatan bahwa jika hanya segelintir rumah yang bisa membersihkan selokannya.. maka sampah, lumpur dan material yang memenuhi selokan lainnya.. akan sulit untuk mengalir ke tempat pembuangan akhir, sehingga inilah salah satu penyebab dari banjir.

4.      Pemerhati kesehatan masyarakat masih kurang

Banyak yang resah jika terjadi banjir, namun yang mau memperhatikan kesehatan masyarakat masih kurang. Pemerhati yang saya maksudkan adalah orang-orang yang mau memperhatikan dan peduli dengan kesehatan di sekitarnya.

Saya bermaksud mengulas lebih banyak lagi, namun mungkin bisa dilain kesempatan, terima kasih atas perhatiannya…



Banjir tak henti-hentinya menjadi masalah bagi masyarakat di Indonesia, namun tak ada akibat jika tidak ada sebab…

Sedikit saya mengulas hasil pengamatan saya tentang penyebab terjadinya banjir yang meresahkan dan merugikan masyarakat dari berbagai segi terutama masalah kesehatan.

Betapa tidak, banjir kerap terjadi karena kesalahan manusia itu sendiri. Hal yang menjadi sorotan saya adalah :

1.      Sampah ada dimana-mana

Pemerintah dan segenap pemerhati kesehatan begitu gencar menyuarakan gerakan hidup bersih dan sehat, namun apalah daya semua kembali kepada individu masing-masing. Sering saya dapati masyarakat membuang sampah seenaknya, lebih parah lagi ketika terjadi hujan deras.. ada banyak orang yang membuang sampahnya ke parit atau selokan dengan dalih agar memudahkan sampah terbuang tanpa harus repot untuk membuang sampah pada tempat sampah umum.

Tidak hanya itu, banyak pula warga yang membuang sampah rumah tangga yang sudah dikumpulkannya ke pinggiran jalan yang kosong, dengan dalih tak ada tempat pembuangan sampah tanpa berpikir dampak yang bisa ditimbulkan…

Masyarakat lebih senang membuang sampah di kali, parit karena berpikir bahwa sampah tersebut nantinya akan mengalir, lantas pertanyaannya..apakah mereka tahu akan mengalir kemana sampah tersebut dan apakah itu tidak mengganggu ?? bahkan menurut dugaan saya banyak warga tahu bahwa hal itu sebenarnya salah namun tetap dilakukan.

Intinya adalah kebiasaan buruk warga yang tidak sadar hidup sehat tersebut harus diselesaikan.

2.       Pembangunan dimana-mana

Indikator keberhasilan sebuah Negara dalah ketika terlihat dari pembangunan dari Negara tersebut, namun yang saya maksudkan adalah…apakah pihak terkait sadar atau sudah memikirkan dampak dan solusi dari pembangunan tersebut sehingga pro terhadap kesehatan lingkungan sekitar.

Apakah ketika merencanakan pembangunan perhatian terhadap kesehatan lingkungan menjadi prioritas ataukah lebih cenderung pro kepada keuntungan dari pembangunan tersebut.

Perumahan dibangun dimana-mana tanpa memikirkan apakah kelak beberapa tahun kedepan tidak merendam perumahan tersebut, yang menurut saya harusnya sudah di pikirkan jauh sebelumnya sebelum membangun dan mencarikan solusi yang tepat. Tidak hanya sekedar menyelesaikan sebuah proyek semata.

3.      Selokan sulit dibersihkan dan selokan tertimbun oleh lumpur

Mengapa saya katakana selokan sulit dibersihkan ?? sebab warga pemilik rumah atau took kadang tak peduli ketika selokan di rumahnya sulit dibersihkan.. banyak warga menutup selokannya sampai kesulitan ingin membersihkannya dengan alasan sebagai jalan masuk kendaraan dan ditempati untuk tanaman di atasnya.

Tidaklah salah jika menutup/melakukan pengecoran diatas selokan sepanjang bisa dibersihkan, yang saya permasalahkan adalah kebanyakan selokan sudah tidak kelihatan karena tertutupi oleh “coran” jika demikian,, bagaimana cara membersihhkannya.

Perlu menjadi catatan bahwa jika hanya segelintir rumah yang bisa membersihkan selokannya.. maka sampah, lumpur dan material yang memenuhi selokan lainnya.. akan sulit untuk mengalir ke tempat pembuangan akhir, sehingga inilah salah satu penyebab dari banjir.

4.      Pemerhati kesehatan masyarakat masih kurang

Banyak yang resah jika terjadi banjir, namun yang mau memperhatikan kesehatan masyarakat masih kurang. Pemerhati yang saya maksudkan adalah orang-orang yang mau memperhatikan dan peduli dengan kesehatan di sekitarnya.

Saya bermaksud mengulas lebih banyak lagi, namun mungkin bisa dilain kesempatan, terima kasih atas perhatiannya…

Saturday, November 22, 2014

EPIDEMIOLOGI GENETIK Part 1

Hasil terjemahan dari jurnal.

Menguraikan Dasar kluster/pengelompokan dalam Keluarga.


Terulangnya penyakit atau korelasi dalam sifat dapat melalui studi/penelitian dari adopsi, kembar, dan setengah-saudara kandung(saudara tiri), memberikan informasi tentang penyebab pengelompokan yang berhubungan dengan keluarga. Jenis lain dari studi keluarga tidak dapat memisahkan pengaruh lingkungan dan berbagai gen.

Studi Adopsi


Untuk alasan logistik, studi adopsi lebih sedikit dan biasanya lebih kecil dari studi keluarga lainnya. Namun demikian, studi adopsi memiliki dampak besar pada pembahasan untuk sejumlah sifat karena penelitian ini telah menghasilkan hasil yang luar biasa. Studi Adopsi menghasilkan fakta bahwa adopsi berbagai variabel genetik semut dengan orang tua biologis mereka, tetapi bukan pada lingkungan orang tua ', dan mereka berbagi lingkungan sampai batas tertentu, tetapi gen berbeda(varian), dengan keluarga yang diadopsi. Di antara temuan yang paling menonjol dari studi adopsi ini adalah penelitian Heston 1966: [1], Ia menunjukkan bahwa di antara 47 anak-anak yang memiliki ibu skizofrenia yang disiapkan untuk adopsi 5 mengembangkan skizofrenia, sementara tak satu pun dari 50 adopsi yang dikontrol menghasilkan skizofrenia. Meskipun ukuran sampel kecil, penelitian yang sangat meyakinkan menunjukkan bahwa skizofrenia memiliki komponen genetik yang kuat. Sebuah komponen intrauterin yang kuat juga bisa menjadi penjelasan tapi studi kembar mengungkapkan tingkat konkordansi jauh lebih tinggi pada kembar monozigot dibandingkan dengan kembar dizigot (lihat di bawah), dan lagi menunjukkan faktor genetik sebagai faktor utama dalam kerentanan skizofrenia [2]. Penemuan menarik yang lain mengejutkan banyak hal adalah Studi adopsi Denmark BMI [3]. Studi ini menunjukkan bahwa BMI adopsi berkorelasi lebih dengan BMI relative biologis mereka daripada relative adopsi mereka, menunjukkan genetik yang kuat atau variasi komponen kehidupan lebih awal variasi terhadap komposisi tubuh dalam pengaturan dengan tidak ada kekurangan pasokan makanan.

Monday, September 22, 2014

Epidemiologi Penykit tidak menular

Berkenaan dengan perubahan yang dialami oleh masyarakat akibat dari kemajuan zaman, yang dulunya masih negara berkembang agraris menuju negara industri. Indonesia mengalami transisi epidemiologi dari penyakit menular menuju penanganan penyakit tidak menular. Meskipun disadari bahya seyogyanya kita masih sangat perlu ekstra bekerja disebabkan karena Indonesia sedang menghadapi beban ganda yakni penyakit menular dan sekaligus mengurusi masalah penyakit tidak menular.

Secara epidemiologi,  Epidemiologi berasal dari kata epi : pada, demos : penduduk, logos : ilmu yang berarti ilmu yang mempelajari tentang hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat. Penyakit tidak menular telah menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi dibandingkan dengan penyakit tidak menular seiring dan sejalan dengan kemajuan tekhnologi dan kemajuan dunia pengobatan serta kedokteran.

 Sasaran MDGs tahun 2015 mengenai penyakit-penyakit menular seperti TB, HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya sudah menunjukkan progres yang sangat baik, namun tidak bisa dipungkiri usaha tersebut belum maksimal sebagaimana yang diharapkan. hal ini terkait dengan banyak faktor yang mempengaruhi masyarakat sehingga sulit untuk sembuh, diantaranya adalah faktor budaya, sosial ekonomi, faktor geografis, akses yankes. Sehingga beban ganda ini merupakan PR besar bagi seluruh masyarakat Indonesia. karena bagaimanapun juga hal ini tidak serta merta menjadi tugas dari petugas kesehatan melainkan tugas kita bersama.

Angka harapan hidup bertambah seiring dan sejalan dengan kemajuan tersebut, sehingga usia tua semakin bertambah banyak, sebagaimana diketahui bahwa penyakit tidak menular lebih banyak di temukan pada mereka yang berusia lanjut.

Penyakit tidak menular sangat dipengaruhi oleh pola makan, alkoholisme, tembakau, diet, stres, lingkungan kerja, dan sebagainya.

Dalam upaya untuk menghindari penyakit-penyakit tidak menular tersebut, maka hal yang harus dilakukan adalah dengan menghindari hal-hal yang memicu penyakit tersebut atau dengan tidak melakukan hal-hal yang berisiko. seperti melakukan pola hidup sehat, gaya hidup sehat, olahraga yang teratur, managemen stres, menghindari alkoholisme dan tembakau yang sebenarnya memang diharamkan oleh ajaran agama Islam bagi anda yang muslim.

Sekian dan Terima kasih....


Tuesday, September 16, 2014

Mengenal Penyakit Cacar

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Terima Kasih ata skunjungan anda di blog sederhana ini.

Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi tentang penyakit cacar, dengan tema mengenal penyakit cacar.
Cacar adalah penyakit yang disebabkan virus atau bakteri, sehingga perlu mengidentifikasi penyakit ini berdasarkan gejala dan efek yang ditimbulkannya.

Gejala dari penyakit cacar adalah umumnya mengalami demam, batuk, kemudian kurang nafsu makan, rasa lemas pada tubuh serta sakit kepala yang berkepanjangan. Setelah gejala ini timbul, kemudian dilanjutkan dengan timbulnya bintik kemerah-merahan pada kulit yang lama kelamaan akan berisi air dan nanah yang dipenuhi dengan bakteri yang biasanya penderita merasa ingin sekali menggaruk. Umumnya muncul dibagian wajah, dada, tangan, kaki dan punggung hingga pada bagian dada.

Penyakit ini bisa mengenai siapa saja baik itu bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa, orang tua dan semua golongan. dapat melalui karena pernafasan, udara, atau berhubungan langsung dengan kulit penderita cacar.



Penyakit cacar dalam bahasa medis disebut variola, sedangkan dalam bahasa Inggris disebut small pox. Penyakit yang disebabkan oleh virus poks (pox virus) ini sudah ada sejak berabad-abad yang lalu dan sangat mudah menular. Gejala yang terjadi bagi yang terinfeksi adalah demam, dan muncul gelembung-gelembung berisi nanah secara serentak di kulit daerah wajah, tangan, kaki, dan akhirnya seluruh tubuh. Penyakit ini kerap berakibat fatal, terutama bila mengenai bayi atau lanjut usia. Bagi yang bisa sembuh pun, akan memberikan bekas di kulit berupa bopeng-bopeng.

Untungnya, penyakit ini sudah tidak ada lagi dunia. Di abad 19, seluruh dunia berupaya memberantas penyakit ini dengan imunisasi. Di wilayah Indonesia, imunisasi cacar telah dilakukan sejak tahun 1856, oleh Pemerintahan Hindia Belanda. Setelah proses yang panjang dan penuh kerja keras, akhirnya penyakit ini tidak ditemukan lagi di Indonesia sejak tahun 1974 dan selanjutnya WHO menetapkan Indonesia bebas dari cacar. Berkat kerjasama seluruh dunia, akhirnya tahun 1980 pun dunia dinyatakan sudah bebas dari penyakit cacar.

 

1.      Cacar Air, walaupun namanya mirip dengan cacar, merupakan penyakit yang berbeda. Cacar air, dalam bahasa medisnya disebut varisela, dan dalam bahasa Inggris dinamai chicken pox. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang bernama virus varisela-zoster.Serupa dengan cacar, gejala yang muncul sama-sama ada demam. Akan tetapi perbedaan terdapat pada gelembung yang muncul kecil-kecil dan tidak serentak, yang dimulai dari bagian tubuh penderita lalu menjalah ke anggota tubuh lainnya. Secara umum, penyakit cacar air ini jauh lebih ringan dan tidak seberbahaya penyakit cacar.
Vaksinasi penyakit ini sesungguhnya sudah ada cukup lama, namun hingga kini belum banyak dilakukan di Indonesia. Vaksinasi cacar air sampai hari ini belum menjadi bagian dari program imunisasi dasar yang diwajibkan, mengingat biayanya yang masih mahal sehingga tidak semua orang mampu menjangkaunya. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) saat ini menjadwalkan pemberian imunisasi cacar air ini bagi anak usia 10 tahun ke atas, bila memang belum terkena cacar air. Namun jika dikehendaki dan memang mampu, vaksin sudah boleh diberikan setelah usia 1 tahun, dan diulang 10 tahun kemudian untuk melindunginya saat dewasa.  
                                                       apotekpratama.com
2.      Cacar Ular, Walaupun namanya cacar ular, penyakit ini tidak disebabkan oleh ular. Cacar ular adalah nama awam untuk penyakit Herpes Zoster. Penyakit ini merupakan bentuk reaktivasi penyakit cacar air (varisela) yang pernah diderita seseorang sebelumnya.
Perlu diketahui, bila seseorang terkena infeksi virus varisela-zoster untuk pertama kali, maka akan timbul penyakit cacar air. Setelah sembuh, virus tersebut tidaklah musnah seluruhnya dari tubuh penderita, melainkan berdiam di dalam tubuh penderita, tepatnya di ganglion saraf tepi penderitanya. Virus yang berdiam dalam tubuh penderita ini dapat sewaktu-waktu muncul kembali dan menyebabkan penyakit yang dinamai Herpes Zoster.
Walau di dalam tubuhnya terdapat virus ini, namun kebanyakan orang memang tidak mengalami penyakit Herpes Zoster. Hal ini disebabkan daya tahan tubuh yang baik yang dapat menekan virus ini berkembang. Sebaliknya, pada orang yang daya tahannya sedang menurun, tak jarang penyakit ini tiba-tiba muncul menyerang.
Gejala yang terjadi pada penyakit ini awalnya hampir sama dengan cacar air, yaitu terjadi demam dan badan terasa pegal-pegal. Selanjutnya sedikit berbeda dengan penyakit cacar air, walaupun virus penyebabnya sama. Pada Herpes Zoster, gelembung muncul dalam suatu kelompok yang menyerupai garis lebar dengan dasar kulit kemerahan, yang muncul dari bagian belakang tubuh dan menjalar ke arah depan pada salah satu sisi tubuh. Mungkin karena gambaran kelainan yang seperti gambar ular ini, maka ada yang menemakannya cacar ular. Sebenarnya gelembung ini bisa muncul di bagian tubuh mana saja, termasuk wajah, namun yang paling sering adalah dari punggung ke bagian dada.

                                             http://cara-menjadi-sehat.blogspot.com
Ada mitos yang mengatakan, bila deretan gelembung muncul dari kedua sisi tubuh, dan kedua ujungnya bertemu, maka akan fatal akibatnya. Mitos ini tidaklah tepat, namun ada unsur benarnya juga. Yang jelas, deretan gelembung memang umumnya muncul hanya di salah satu sisi saja. Bila sampai muncul di kedua sisi, berarti infeksi yang terjadi sangat berat, dan daya tahan tubuh penderita dalam keadaan sangat lemah dan buruk. Tentunya kondisi fisik yang demikian ini memang memiliki risiko yang bisa berakibat fatal. Walaupun jarang, kasus seperti ini dapat dijumpai pada penderita yang mendapat terapi imunosupresan (penekanan sistem kekebalan tubuh) dosis tinggi dalam jangka panjang atau pada penderita HIV / AIDS.

3.      Cacar Monyet, Istilah cacar monyet memang relatif tidak sepopuler istilah cacar lainnya yang telah disebutkan di atas. Penyakit ini nama ilmiahnya adalah impetigo bulosa, atau ada pula yang menamakan impetigo vesikulo-bulosa. Berbeda dengan jenis cacar lainnya yang disebabkan karena infeksi virus, cacar monyet ini disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus.

                                                                       http://penyakitcacar.com/
Secara klinis, penderita tidak mengalami demam ataupun gejala umum seperti pada cacar air ataupun herpes zoster. Gejala yang didapatkan adalah adanya gelembung yang munculnya terutama di ketiak, dada, dan punggung. Gelembung yang muncul ini cepat pecah dan jumlahnya tidak begitu banyak, namun kerap kali disertai pula oleh miliaria (biang keringat).
Penyakit ini memang tidaklah seberat penyakit lainnya, karena terbatas pada lapisan kulit saja. Namun tentunya tidak berarti tidak perlu diobati. Apalagi karena yang menjadi penyebab adalah bakteri, yang untuk memusnahkannya diperlukan obat antibiotika yang dioleskan pada tempat yang terkena.
 


Jenis-jenis cacar, di ambil dari laman  http://indonesiaindonesia.com/f/13906-penyakit-cacar/

terima kasih atas perhatian anda dan salam sehat...