Thursday, February 2, 2012

Tentang Asthenopia

1.   Asthenopia yang banyak dikeluhkan oleh pekerja pengguna komputer dalam kamus ilmiah penglihatan didefinisikan sebagai keluhan subjektif penglihatan berupa penglihatan tidak nyaman, sakit dan kepekaannya berlebihan. Asthenopia sering pula diistilahkan dengan Computer Eye Syndrome yang bermanifestasi tidak spesifik seperti : lelah, nyeri penglihatan kabur, sakit kepala dan sebagainya akibat penggunaan komputer yang berlebihan.
2.   Visual Display Terminal (DVT) merupakan bagian yang paling berpengaruh terhadap kesehatan mata pekerja pengguna komputer dengan gejala antara lain : Myopia sementara, mata lelah (Asthenopia), penglihatan kabur, mata kering, iritasi, mata berair, dan peningkatan sensitivitas terhadap cahaya
3.   Aspek kesehatan dan keselamatan kerja (K3) perlu diperhatikan, walaupun bekerja dengan komputer secara sepintas tampak tidak memungkinkan adanya gangguan atau penyakit akibat kerja. Hal-hal yang berkaitan dengan aspek K3 pada pekerja pengguna komputer adalah : sarana dan prasarana (keyboard, layar monitor, meja dan kursi komputer, dan printer), lingkungan kerja dan faktor si pengguna/ pekerja sendiri.
4.   Berkomputer dengan menerapkan prinsip-prinsip ergonomis merupakan cara jitu untuk menghindari gangguan kesehatan akibat pemakaian komputer.
5.   Secara umum ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah atau mengurangi  terjadinya kelelahan mata (asthenopia) pada saat bekerja dengan komputer yaitu : atur posisi layar monitor, atur posisi dan jarak tubuh dari monitor, bersihkan layar monitor secara periodik, gunakan pencahayaan yang cukup dan tidak redup, istirahatkan mata dan  diri anda secara rutin, perbanyak minum air putih, dan jangan lupa mengedipkan mata agar tetap lembab serta rileks.

Tahap-tahap Pengolahan Data dan Etika dalam penlitian

Dalam melakukan penelitian, terdapat tahap-tahap dalam melakukan pengolahan data dan etika dalam penelitian, sebagai berikut akan dijelaskan tahap-tahap pengolahan data dan terdapat etika yang perlu diperhatikan sebagai berikut :
Menurut Hastono, P.S (2001), menjelaskan tahap-tahap pengolahan data yaitu :
1.      Editing, yaitu untuk melakukan pengecekan pengisian kuesioner apakah jawaban yang ada dalam kuesioner lengkap, jelas, relevan, dan konsisten.
2.      Coding, yaitu merubah data berbentuk huruf menjadi data berbentuk angka atau bilangan.
3.      Processing, yaitu pemrosesan data yang dilakukan dengan cara mengerti data dari kuesioner ke paket program komputer.
4.  Cleaning, yaitu membersihkan data yang merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah di entri apakah ada kesalahan atau tidak.

Kemudian terdapat etika saat penelitian yaitu :
Menurut Nursalam (2001), prinsip dari etika penelitian antara lain :
1.      Penelitian ini tidak mengakibatkan penderitaan pada responden
2.      Meyakinkan responden bahwa partisipasinya dalam penelitian ini tidak akan digunakan dalam hal-hal yang bisa merugikan responden dalam bentuk apapun.
3.      Memperlakukan responden secara manusiawi, dimana responden mempunyai hak untuk tidak ikut dalam penelitian ini.
4.      Memberikan penjelasan secara rinci tentang maksud, tujuan dan manfaat dari penelitian ini dan meminta responden untuk menandatangani surat perjanjian menjadi responden.

Wednesday, February 1, 2012

Risiko Gangguan Fungsi Paru Pada Pekerja Pengecatan Mobil

Cat merupakan campuran bahan kimia yang sudah dikenal sejak dahulu dan banyak digunakan diberbagai tempat. Cat semprot banyak digunakan di industri-industri mobil, mebel, pesawat, kapal laut, dan industri lain. Cat semprot lebih berbahaya daripada cat kuas karena partikelnya yang kecil dapat tersebar luas. Cat semprot mengubah substansi menjadi aerosol, yaitu kumpulan partikel halus berupa cair atau padat. Aerosol dengan ukurannya yang kecil akan mudah terhisap, sehingga potensial merupakan pajanan khususnya terhadap kesehatan paru. Selain itu juga berpotensi menyebabkan penyakit paru akibat kerja, antara lain kanker, asma, dan pneumonitis hipersensitivitas.
Prevalensi gangguan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil dari hasil beberapa penelitian menunjukkan besaran masalah yang cukup signifikan. Penelitian di Kalifornia Utara terhadap komunitas yang terpapar oleh bahan kimia dalam cat menunjukkan sebanyak 80%-nya mengalami ganguan fungsi paru 6). Penelitian lain di Stockholm Swedia terhadap pekerja pengecatan menunjukkan 50% pekerja mengalami penurunan fungsi paru setelah 10 tahun bekerja 7). Sementara itu penelitian di Finlandia menunjukkan prevalensi ganguan fungsi paru yang cukup tinggi pada beberapa kelompok pekerja terutama yang terkait dengan paparan bahan kimia yang terdapat dalam cat, yaitu pada pekerja bengkel dan pengecatan mobil sebesar 27,6%; pekerja yang menangani polyurethane sebesar 22,3%; tukang mesin sebesar 8,3%; pekerja yang terpapar pigmen (pengecat) sebesar 12,1%; tukang kayu 3,4%; dan tukang las sebesar 3,2% 4). Penelitian Hammond et al terhadap pekerja las dan pengecatan mobil juga menunjukkan hasil bahwa pekerjaan pengecat mobil secara signifikan berhubungan dengan penyakit paru obstruksi kronik (OR 3,73 CI 95% = 1,27 – 11,0)8). Penelitian di Indonesia juga menunjukkan hal yang sama, misalnya penelitian Riswati pada bengkel pengecatan mobil di Kampung Ligu Semarang, menunjukkan prevalensi yang cukup tinggi yaitu sebesar 30% pekerja mengalami gangguan fungsi paru 9).
Hasil dari survei pendahuluan yang  lakukan pada bulan Desember 2011 pada 10 bengkel pengecatan mobil di kota Kendari juga menunjukkan tingginya prevalensi gangguan fungsi paru yang mencapai 30%. Rata-rata responden mengeluh sesak nafas dan batuk disertai dahak. Selain itu mereka juga menyatakan setelah mengecat dahaknya berwarna seperti warna bahan cat yang digunakan, dan dada terasa sakit.
Dari beberapa teori diketahui bahwa, gangguan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil dipengaruhi oleh banyak faktor, yang dapat dikelompokkan dalam dua kelompok yaitu penyebab langsung dan tidak langsung. Penyebab langsungnya yaitu partikel yang terinhalasi ke saluran nafas, sedangkan penyebab tidak langsung di antaranya adalah dari faktor pekerja dan karakteristik pekerjaan. Ketahanan individu dari pekerja sangat sulit untuk diukur, pekerja yang terpapar oleh lingkungan yang sama dalam periode waktu yang sama mungkin akan menunjukkan perkembangan derajat penyakit paru yang berbeda10). Beberapa faktor host atau karakteristik pekerja yang mungkin berpengaruh adalah mekanisme clearance paru, faktor genetik, riwayat penyakit, umur, jenis kelamin, status gizi, kebiasaan olah raga, dan kebiasaan merokok 10,11,12).Karakteristik pekerjaan yang mempengaruhi antara lain adalah masa kerja, jumlah jam kerja per minggu 10), posisi terhadap pengecat yang lain, kepemilikan ruang khusus pengecatan, ventilasi ruang pengecatan, posisi terhadap arah angin pada saat pengecatan, ketinggian obyek yang dicat, kemudahan untuk memindahkan obyek pada saat pengecatan, dan penggunaan masker 13).
Partikel terinhalasi yang merupakan penyebab langsung dari gangguan fungsi paru ditentukan oleh beberapa variabel yaitu ukuran partikel, intensitas (kadar) dan durasi dari paparan, serta daya tahan pekerja10). Partikel dengan ukuran diameter 5 μ atau lebih kecil dapat mencapai alveoli. Selain ukuran yang sangat kecil, intensitas dan durasi paparan yang lama akan menyebabkan partikel terdeposit dalam alveoli sehingga dalam jangka panjang terjadi penurunan fungsi paru. Partikel kontaminan hasil dari aktivitas pengecatan ini terdiri dari bermacam-macam bahan kimia serta pelarutnya 10,14).
Bahan kimia berbahaya yang terdapat dalam cat ini di antaranya adalah cadmium15), chromium16,17), plumbum 18), merkuri 19), dan acrylic resin 20). Bahan bahan tersebut bersifat toksik dan merupakan bahan karsinogenik. Apabila masuk ke dalam saluan pernafasan dapat mengakibatkan terjadinya fibrosis yang selanjutnya dapat menurunkan kapasitas vital paru dan dalam jangka panjang dapat menyebabkan kanker. Selain itu dalam cat terdapat juga bahan kimia isocyanate dan pelarut toluene yang terbukti dapat menurunkan kapasitas vitalparu 7,21,22,23,24,25). Isocyanates seperti dilaporkan oleh konsultan kesehatan kerja Occupational health clinics for Ontario worker Inc adalah kelompok bahan kimia yang paling reaktif yang biasanya digunakan pada industri otomotif dan cat. Dalam laporannya disampaikan bahwa kelompok yang paling berisiko terpapar bahan ini adalah pengecat spray (spray painters) 26). Kumpulan bahan kimia yang terdapat dalam bahan cat tersebut dengan cara disemprotkan dengan alat spray painting dirubah menjadi bentuk aerosol, yaitu kumpulan partikel halus berupa cair atau padat. Bentuk tersebut akan sangat mudah terhisap oleh pengecat terutama jika tidak mengenakan masker, sehingga merupakan _ampon risiko yang penting terhadap penurunan fungsi paru 26). Menurut Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja nomor 01 tahun 1997, kadar partikel dari aktivitas pengecatan mobil ini ditetapkan nilai ambang batasnya sebesar 3 mg/m3. Artinya apabila selama 8 jam bekerja tiap harinya atau 40 jam selama seminggu, pekerja terpapar oleh partikel lebih dari 3 mg/m3, maka pekerja akan mempunyai risiko untuk terjadinya gangguan fungsi paru 27). Identifikasi masalah :
1.    Hasil dari _ampon pendahuluan menunjukkan prevalensi gangguan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil cukup tinggi, yaitu mencapai 30%. Selain itu rata-rata responden juga mengeluh sesak nafas dan batuk disertai dahak, dan setelah mengecat dahaknya berwarna seperti warna bahan cat yang digunakan, serta dada terasa sakit
2.    Hasil _ampon pendahuluan juga menunjukkan terdapat karakteristik pekerja dan karakteristik pekerjaan yang merugikan kesehatan, yaitu hampir seluruh pekerja mempunyai kebiasaan merokok, dan tidak menggunakan masker dengan baik pada saat bekerja.
3.    Partikel cat dalam aktivitas pengecatan terdiri dari bahan kimia berbahaya seperti cadmium, chromium, plumbum, merkuri, dan acrylic resin, isocyanate dan pelarut toluene. Bahan-bahan tersebut bersifat toksik dan merupakan bahan karsinogenik, bila masuk dalam saluran pernafasan terbukti dapat menimbulkan gangguan fungsi paru.

Penyakit Gangguan Fungsi Paru Pada Pekerja Pengecatan Mobil

Pertumbuhan jumlah penduduk di seluruh dunia yang demikian cepat telah mendorong lahirnya era industrialisasi. Sebuah masa yang ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga manusia dapat lebih mudah memenuhi kebutuhan hidupnya. Keadaan tersebut selanjutnya membuka keberagaman lapangan kerja. Meskipun terbukanya lebih banyak lapangan kerja tersebut di satu sisi sangat dibutuhkan, namun di lain pihak perlu disadari adanya permasalahan yang perlu diperhatikan yaitu berkaitan dengan dampak penyakit akibat kerja 1).
Dampak kemajuan industrialisasi yang berupa timbulnya penyakit akibat kerja tersebut di atas perlu mendapat perhatian yang serius. Hal ini disebabkan laju pertumbuhan angkatan kerja yang cukup besar, yaitu selama periode tahun 1980 – 1990 adalah sebesar 35%, dan pada tahun 2000 tercatat sebesar 101 juta. Jumlah pekerja yang cukup besar tersebut apabila tidak mendapat perhatian kesehatan dan keselamatan kerjanya, maka pada gilirannya dapat menyebabkan turunnya produktivitas dan daya saing pekerja. Selain itu dapat menimbulkan beban ekonomi yang sangat besar jika terjadi penyakit terkait kerja 1,2). Meskipun dampak negatif dari timbulnya penyakit terkait kerja telah diketahui, namun data tentang penyakit terkait kerja di Indonesia sampai saat ini belum terekam dengan baik 3).
Untuk menunjukkan besaran masalah penyakit  terkait kerja ini, jika dilihat dari adanya kecenderungan peningkatan prevalensi di beberapa negara maju, maka dapat diperkirakan di Indonesia prevalensinya juga meningkat. Salah satu bidang pekerjaan yang perlu mendapat perhatian adalah penyakit akibat kerja pada pekerja pengecatan mobil. Kelompok pekerja ini perlu mendapat perhatian karena jumlahnya yang terus berkembang, sementara itu risiko penyakit akibat kerjanya cukup besar4). Menurut ketua paguyuban bengkel cat mobil di Kota Kendari, saat ini kurang lebih terdapat 75 bengkel cat mobil. Jumlah tersebut telah meningkat sebanyak 100% dibanding jumlah bengkel cat mobil pada tahun 1990.
Salah satu penyakit terkait kerja pada pekerja pengecatan mobil tersebut adalah gangguan fungsi paru. Beberapa bukti dari hasil penelitian oleh American Lung Association yang dikutip oleh Bruce menyimpulkan bahwa kontaminasi udara oleh partikel partikel pada lingkungan kerja merupakan faktor risiko bagi kesehatan pernafasan pekerja, dan penurunan paparan dapat menurunkan risiko tersebut 5). Penelitian yang dilakukan oleh Piirila tahun 2005 menunjukkan dari 13 jenis pekerjaan di Finlandia, pekerjaan yang prevalensi kejadian penyakit saluran pernafasannya paling tinggi adalah pekerja pengecatan mobil 4).
Prevalensi gangguan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil dari hasil beberapa penelitian menunjukkan besaran masalah yang cukup signifikan. Penelitian di Kalifornia Utara terhadap komunitas yang terpapar oleh bahan kimia dalam cat menunjukkan sebanyak 80%-nya mengalami ganguan fungsi paru 6). Penelitian lain di Stockholm Swedia terhadap pekerja pengecatan menunjukkan 50% pekerja mengalami penurunan fungsi paru setelah 10 tahun bekerja 7). Sementara itu penelitian di Finlandia menunjukkan prevalensi ganguan fungsi paru yang cukup tinggi pada beberapa kelompok pekerja terutama yang terkait dengan paparan bahan kimia yang terdapat dalam cat, yaitu pada pekerja bengkel dan pengecatan mobil sebesar 27,6%; pekerja yang menangani polyurethane sebesar 22,3%; tukang mesin sebesar 8,3%; pekerja yang terpapar pigmen (pengecat) sebesar 12,1%; tukang kayu 3,4%; dan tukang las sebesar 3,2% 4). Penelitian Hammond et al terhadap pekerja las dan pengecatan mobil juga menunjukkan hasil bahwa pekerjaan pengecat mobil secara signifikan berhubungan dengan penyakit paru obstruksi kronik (OR 3,73 CI 95% = 1,27 – 11,0)8). Penelitian di Indonesia juga menunjukkan hal yang sama, misalnya penelitian Riswati pada bengkel pengecatan mobil di Kampung Ligu Semarang, menunjukkan prevalensi yang cukup tinggi yaitu sebesar 30% pekerja mengalami gangguan fungsi paru 9).
Saya akan lanjutkan pada kesempatan berikutnya..