Wednesday, February 1, 2012

Risiko Gangguan Fungsi Paru Pada Pekerja Pengecatan Mobil

Cat merupakan campuran bahan kimia yang sudah dikenal sejak dahulu dan banyak digunakan diberbagai tempat. Cat semprot banyak digunakan di industri-industri mobil, mebel, pesawat, kapal laut, dan industri lain. Cat semprot lebih berbahaya daripada cat kuas karena partikelnya yang kecil dapat tersebar luas. Cat semprot mengubah substansi menjadi aerosol, yaitu kumpulan partikel halus berupa cair atau padat. Aerosol dengan ukurannya yang kecil akan mudah terhisap, sehingga potensial merupakan pajanan khususnya terhadap kesehatan paru. Selain itu juga berpotensi menyebabkan penyakit paru akibat kerja, antara lain kanker, asma, dan pneumonitis hipersensitivitas.
Prevalensi gangguan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil dari hasil beberapa penelitian menunjukkan besaran masalah yang cukup signifikan. Penelitian di Kalifornia Utara terhadap komunitas yang terpapar oleh bahan kimia dalam cat menunjukkan sebanyak 80%-nya mengalami ganguan fungsi paru 6). Penelitian lain di Stockholm Swedia terhadap pekerja pengecatan menunjukkan 50% pekerja mengalami penurunan fungsi paru setelah 10 tahun bekerja 7). Sementara itu penelitian di Finlandia menunjukkan prevalensi ganguan fungsi paru yang cukup tinggi pada beberapa kelompok pekerja terutama yang terkait dengan paparan bahan kimia yang terdapat dalam cat, yaitu pada pekerja bengkel dan pengecatan mobil sebesar 27,6%; pekerja yang menangani polyurethane sebesar 22,3%; tukang mesin sebesar 8,3%; pekerja yang terpapar pigmen (pengecat) sebesar 12,1%; tukang kayu 3,4%; dan tukang las sebesar 3,2% 4). Penelitian Hammond et al terhadap pekerja las dan pengecatan mobil juga menunjukkan hasil bahwa pekerjaan pengecat mobil secara signifikan berhubungan dengan penyakit paru obstruksi kronik (OR 3,73 CI 95% = 1,27 – 11,0)8). Penelitian di Indonesia juga menunjukkan hal yang sama, misalnya penelitian Riswati pada bengkel pengecatan mobil di Kampung Ligu Semarang, menunjukkan prevalensi yang cukup tinggi yaitu sebesar 30% pekerja mengalami gangguan fungsi paru 9).
Hasil dari survei pendahuluan yang  lakukan pada bulan Desember 2011 pada 10 bengkel pengecatan mobil di kota Kendari juga menunjukkan tingginya prevalensi gangguan fungsi paru yang mencapai 30%. Rata-rata responden mengeluh sesak nafas dan batuk disertai dahak. Selain itu mereka juga menyatakan setelah mengecat dahaknya berwarna seperti warna bahan cat yang digunakan, dan dada terasa sakit.
Dari beberapa teori diketahui bahwa, gangguan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil dipengaruhi oleh banyak faktor, yang dapat dikelompokkan dalam dua kelompok yaitu penyebab langsung dan tidak langsung. Penyebab langsungnya yaitu partikel yang terinhalasi ke saluran nafas, sedangkan penyebab tidak langsung di antaranya adalah dari faktor pekerja dan karakteristik pekerjaan. Ketahanan individu dari pekerja sangat sulit untuk diukur, pekerja yang terpapar oleh lingkungan yang sama dalam periode waktu yang sama mungkin akan menunjukkan perkembangan derajat penyakit paru yang berbeda10). Beberapa faktor host atau karakteristik pekerja yang mungkin berpengaruh adalah mekanisme clearance paru, faktor genetik, riwayat penyakit, umur, jenis kelamin, status gizi, kebiasaan olah raga, dan kebiasaan merokok 10,11,12).Karakteristik pekerjaan yang mempengaruhi antara lain adalah masa kerja, jumlah jam kerja per minggu 10), posisi terhadap pengecat yang lain, kepemilikan ruang khusus pengecatan, ventilasi ruang pengecatan, posisi terhadap arah angin pada saat pengecatan, ketinggian obyek yang dicat, kemudahan untuk memindahkan obyek pada saat pengecatan, dan penggunaan masker 13).
Partikel terinhalasi yang merupakan penyebab langsung dari gangguan fungsi paru ditentukan oleh beberapa variabel yaitu ukuran partikel, intensitas (kadar) dan durasi dari paparan, serta daya tahan pekerja10). Partikel dengan ukuran diameter 5 μ atau lebih kecil dapat mencapai alveoli. Selain ukuran yang sangat kecil, intensitas dan durasi paparan yang lama akan menyebabkan partikel terdeposit dalam alveoli sehingga dalam jangka panjang terjadi penurunan fungsi paru. Partikel kontaminan hasil dari aktivitas pengecatan ini terdiri dari bermacam-macam bahan kimia serta pelarutnya 10,14).
Bahan kimia berbahaya yang terdapat dalam cat ini di antaranya adalah cadmium15), chromium16,17), plumbum 18), merkuri 19), dan acrylic resin 20). Bahan bahan tersebut bersifat toksik dan merupakan bahan karsinogenik. Apabila masuk ke dalam saluan pernafasan dapat mengakibatkan terjadinya fibrosis yang selanjutnya dapat menurunkan kapasitas vital paru dan dalam jangka panjang dapat menyebabkan kanker. Selain itu dalam cat terdapat juga bahan kimia isocyanate dan pelarut toluene yang terbukti dapat menurunkan kapasitas vitalparu 7,21,22,23,24,25). Isocyanates seperti dilaporkan oleh konsultan kesehatan kerja Occupational health clinics for Ontario worker Inc adalah kelompok bahan kimia yang paling reaktif yang biasanya digunakan pada industri otomotif dan cat. Dalam laporannya disampaikan bahwa kelompok yang paling berisiko terpapar bahan ini adalah pengecat spray (spray painters) 26). Kumpulan bahan kimia yang terdapat dalam bahan cat tersebut dengan cara disemprotkan dengan alat spray painting dirubah menjadi bentuk aerosol, yaitu kumpulan partikel halus berupa cair atau padat. Bentuk tersebut akan sangat mudah terhisap oleh pengecat terutama jika tidak mengenakan masker, sehingga merupakan _ampon risiko yang penting terhadap penurunan fungsi paru 26). Menurut Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja nomor 01 tahun 1997, kadar partikel dari aktivitas pengecatan mobil ini ditetapkan nilai ambang batasnya sebesar 3 mg/m3. Artinya apabila selama 8 jam bekerja tiap harinya atau 40 jam selama seminggu, pekerja terpapar oleh partikel lebih dari 3 mg/m3, maka pekerja akan mempunyai risiko untuk terjadinya gangguan fungsi paru 27). Identifikasi masalah :
1.    Hasil dari _ampon pendahuluan menunjukkan prevalensi gangguan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil cukup tinggi, yaitu mencapai 30%. Selain itu rata-rata responden juga mengeluh sesak nafas dan batuk disertai dahak, dan setelah mengecat dahaknya berwarna seperti warna bahan cat yang digunakan, serta dada terasa sakit
2.    Hasil _ampon pendahuluan juga menunjukkan terdapat karakteristik pekerja dan karakteristik pekerjaan yang merugikan kesehatan, yaitu hampir seluruh pekerja mempunyai kebiasaan merokok, dan tidak menggunakan masker dengan baik pada saat bekerja.
3.    Partikel cat dalam aktivitas pengecatan terdiri dari bahan kimia berbahaya seperti cadmium, chromium, plumbum, merkuri, dan acrylic resin, isocyanate dan pelarut toluene. Bahan-bahan tersebut bersifat toksik dan merupakan bahan karsinogenik, bila masuk dalam saluran pernafasan terbukti dapat menimbulkan gangguan fungsi paru.

0 komentar:

Post a Comment