Saturday, March 3, 2012

Kebijakan Pemerintah tentang HIV/AIDS di tempat kerja

1.      Latar Belakang
AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome. Penyakit AIDS yaitu suatu penyakit yang ditimbulkan sebagai dampak berkembangbiaknya virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) didalam tubuh manusia, yang mana virus ini menyerang sel darah putih (sel CD4) sehingga mengakibatkan rusaknya system kekebalan tubuh. Hilangnya atau berkurangnya daya tahan tubuh membuat si penderita mudah sekali terjangkit berbagai macam penyakit termasuk penyakit ringan sekalipun. Virus HIV menyerang sel CD4 dan menjadikannya tempat berkembang biak Virus HIV baru kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi. Sebagaimana kita ketahui bahwa sel darah putih sangat diperlukan uintuk system kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh maka ketika tubuh kita diserang penyakit. Tubuh kita lemah dan tidak berupaya melawan juangkitan penyakit dan akibatnya kita dapat meninggal dunia meski terkena influenza atau pilek biasa.
Ketika tubuh manusia terkena virus HIV maka tidaklah langsung menyebabkan atau menderita penyakit AIDS, melainkan diperlukan waktu yang cukup lama bahkan bertahun-tahun bagi virus HIV untuk menyebabkan AIDS atau HIV positif yang mematikan.
II. Fase Riwayat Alamiah
1. Fase Rentan/ Kerentanan
Penyebab AIDS adalah sejenis virus yang tergolong Retrovirus yang disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV). Human Immunodeficiency Virus adalah sejenis Retrovirus RNA. Dalam bentuknya yang asli merupakan partikel yang inert, tidak dapat berkembang atau melukai sampai ia masuk ke sel target. Sel target virus ini terutama sel Lymfosit T, karena ia mempunyai reseptor untuk virus HIV yang disebut CD4. didalam sel Lymfosit T, virus dapat berkembang dan seperti retrovirus yang lain, dapat tetap hidup lama dalam sel dengan keadaan inaktif. Walaupun demikian virus dalam tubuh penghisap HIV selalu dianggap infectious yang setiap saat dapat aktif dan dapat ditularkan selama hidup penderita tersebut. HIV termasuk dalam famili retrovirus dan subfamily lentivirus. Virus ini berbentuk lonjong, diameter 100 um, terdiri dari inti dan kapsul, inaktif dengan alcohol, pemutih klorine, aldehida, desinfectan, pelarut lemak, detergen, dan pada pemanasan 500C selama 30 menit, resisten dengan radiasi sinarX dan sinar ultraviolet. Sampai saat ini telah ditemukan 2 subtipe HIV yaitu HIV-1 dan HIV-2. kedua virus tersebut dapat menyebabkan AIDS, namun perjalanan penyakit yang disebabkan oleh HIV-2 berlangsung lebih lama.
HIV dapat menular dari satu manusia ke manusia lainnya melalui kontak cairan pada alat reproduksi, kontak darah (misalnya trafusi darah, kontak luka, dll), penggunaan jarum suntik secara bergantian dan kehamilan. Penularan melalui produk darah secara teori dapat saja terjadi, namun pada kenyataannya prosesntasinya sangat kecil. Pada fase ini orang tersebut tidak memperlihatkan gejala-gejala walaupun jumlah HIV semakin banyak dan semakin menggerogoti kekebalan tubuhnya. Fase ini berlangsung selama lebih kurang lima sampai sepuluh tahun. Jika dilakukan tes antibody untuk mengetahui keberadaan HIV, hasilnya akan negatif.
2. Fase Presimtomatis
Pada fase ini didalam tubuh terdapat HIV namun penderita tidak menunjukkan gejala apapun, tetapi jika dilakukan tes antibody hasilnya sudah menunjukkan positif. Fase ini berlangsung selama 1 sampai 6 bulan. Pada fase ini penderita mengalami perubahan patologi seperti sindrom retroviral akut berupa pembesaran kelenjar, pembesaran hati atau ginjal, nyeri otot, nyeri tenggorokan dan sebagainya seeprti pada infeksi virus lain.
3. Fase Klinis
Pada fase ini virus akan menghancurkan sebagian besar atai keseluruhan system immune penerita dan penderita dapa dinyatakan positif mengidap AIDS. Gejala klinis pada orang dewasa ialah jika ditemukan dua dari tiga gejala utama dan satu dari lima gejala minor. Gejala utamanya antara lain demam berkepanjangan, penurunan berat badan lebih dari 10% dalam kurun waktu tiga bulan, dan diare kronis selama lebih dari satu bulan secara berulang-ul;ang maupun terus menerus. Gejala minornya yaitu batuk krois selama lebih dari 1 bulan, munculnya Herpes zoster secara berulang-ulang, infeksi pad amulut dan tenggorokan yang disebabkan oleh Candida albicans, bercak-bercak gatal di seluruh tubuh, serta pembengkakan kelenjar getah bening secara menetap di seluruh tubuh. Akibat rusaknya system kekebalan, penderita menjadi mudah terserang penyuakit-penyakit yang disebut penyakit oportunitis. Penyakit yang biasa menyerang orang normal seperti flu, diare, gatal-gatal, dan lain-lain. Bias menjadi penyakit yang mematikan di tubuh seorang penderita AIDS.
a.      Tahap inkubasi
Masa inkubasi adalah waktu yang diperlukan sejak seseorang terpapar virus HIV sampai dengan menunjukkan gejala-gejala AIDS. Waktu yang dibutuhkan rata-rata cukup lama dan dapat mencapai kurang lebih 12 tahun dan semasa inkubasi penderita tidak menunjukkan gejala-gejala sakit.
Selama masa inkubasi ini penderita disebut penderita HIV. Pada fase ini terdapat masa dimana virus HIV tidak dapat tedeteksi dengan pemeriksaan laboratorium kurang lebih 3 bulan sejak tertular virus HIV yang dikenal dengan masa window periode.
Selama masa inkubasi penderita HIV sudah berpotensi untuk menularkan virus HIV kepad aorang lain dengan berbagai caa sesuai pola transmisi virus HIV. Mengingat masa inkubasi yang relatif lama, dan penderita HIV tidak menunjukkan gejala-gejala sakit, maka sangat besar kemungkinan penularan terjadi pada fase inkubasi ini.
b. Tahap penyakit dini
Penderita mengalami demam selama 3 sampai 6 minggu tergantung daya tahan tubuh saat mendapat kontak virus HIV tersebut. Setelah kondisi membaik, orang yang terkena virus HIV akan tetap sehat dalam beberapa tahun dan perlahan kekebalan tubuhnya menurun/ lemah hingga jatuh sakit Karena serangan demam yang berulang. Satu cara untuk mendapat kepastian adalah dengan menjalani uji antibody HIV terutamanya jika seseorang merasa telah melakukan aktivitas yang berisiko terkena virus HIV.
c.       Tahap penyakit lanjut
Pada tahap ini penderita sudah tidak bias melakukan aktivitas apa-apa. Penderita mengalami nafas pendek, henti nafas sejenak, batuk serta nyeri dada.penderita mengalami jamur pad arongga mulut dan kerongkongan. Terjadinya gangguan pad apersyarafan central mengakibatkan kurang ingatan, sakit kepala, susah berkonsentrasi, sering tampak kebingungan dan respon anggota gerak melambat. Pada system persyarafan ujung (peripheral) akan menimbulkan nyeri dan kesemutan pada telapak tangan dan kaki, reflek tendon yang kurang selalu mengalami tensi darah rendah dan impotent. Penderita mengalami serangan virus cacar air (herpes simplex) atau cacar api (herpes zoster) dan berbagai macam penyakit kulit yang menimbulkan rasa nyeri pada jaringan kulit. Lainnya adalah mengalami infeksi jaringan rambut pad akulit (folliculities), kulit kering berbeca-bercak.
4. Fase Terminal
Fase ini merupakan fase terakhir dari perjalanan penyakit AIDS pada tubuh penderita. Fase akhir dari penderita penyakit AIDS adalah meninggal dunia.

2.      Program pencegahan HIV/AIDS di tempat kerja
Program pencegahan HIV/AIDS di tempat kerja difokuskan pada pembentukan perilaku pekerja untuk tidak terpapar pada rantai penularan HIV/AIDS, antara lain melalui kontak seksual dan kontak jarum suntik. Bentuk kegiatan pencegahan HIV/AIDS ditempat kerja akan banyak berupa pendidikan pekerja (Workers Education) untuk meningkatkan kesadaran akan resiko HIV/AIDS dan adopsi perilaku aman untuk mencegah kontak dengan rantai penularan HIV/AIDS.
Pelayanan Kesehatan HIV/AIDS Yang Pernah Dilakukan Oleh Pemerintah :
1.      Pelayanan Promotif : Meningkatkan KIE tentang HIV AIDS.
Ø  Promosi Perilaku Seksual Aman (Promoting Safer Sexual Behavior).
Ø  Promosi dan distribusi kondom (Promoting and Distributing Condom).
Ø  Norma Sehat di Tempat Kerja : tidak merokok, tidak mengkonsumsi Napza.
Ø  Penggunaan alat suntik yang aman (Promoting and Safer Drug Injection Behavior).
2.      Pelayanan Preventif
Ø  Peningkatan gaya hidup sehat (Reducing Vulnerability of Spesific Pop).
Ø  Memahami penyakit HIV AIDS, bahaya dan pencegahannya.
Ø  Memahami penyakit IMS, bahaya dan cara pencegahannya.
Ø  Diadakannya konseling tentang HIV AIDS pada pekerja secara sukarela dan tidak dipaksa.
3.      Pelayanan Kuratif
Ø  Pengobatan dan perawatan ODHA
Ø  Pencegahan dan pengobatan IMS (Infeksi Menular Seksual)
Ø  Penyediaan dan Transfusi yang aman
Ø  Mencegah komplikasi dan penularan terhadap keluarga dan teman sekerjanya
Ø  Dukungan sosial ekonomi ODHA
4.      Pelayanan Rehabilitatif
Ø  Latihan dan pendidikan pekerja untuk dapat menggunakankemampuan yang masih ada secara maksimal
Ø  Penempatan pekerja sesuai kemampuannya
Ø  Penyuluhan kepada pekerja dan pengusaha untuk menerima penderita ODHA untuk bekerja seperti pekerja lain
Ø  Menghilangkan Stigma dan Diskriminasi terhadap pekerja ODHA oleh rekan kerja dan pengusaha
Selain itu terdapat pula kebijakan yang merupakan Keputusan Presiden Nomor 75 Tahun 2006 yaitu:
1.      Melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan AIDS berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta berperan aktif dalam pelaksanaan strategi global pencegahan dan penanggulangan AIDS yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.
2.      Meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya AIDS, serta meningkatkan pencegahan dan penanggulangan AIDS secara lintas sektor, menyeleruh, terencana, terpadu dan terkoordinasi.
Dalam melaksanakan tujuan utama tersebut Komisi melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1.      Penanggulangan AIDS yang meliputi pencegahan, penyuluhan, pelayanan, pemantauan, pengendalian bahaya AIDS.
2.      Pengamatan epidemiologic pada lelompok penduduk yang beresiko tinggi mudah tertular dan menjadi sumber penularan/penyebaran HIV.
3.      Mengadakan penyuluhan tentang bahaya dan bagaimana cara mencegah penularan HIV bagi masyarakat umum.
4.      Mengadakan kerjasama internasional dan regional dalam rangka pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS.
5.      Menyebarluaskan informasi mengenai HIV/AIDS dalam berbagai media massa dengan cara yang tepat dan tidak menimbulkan keresahan serta kebimbangan dalam masyarakat.
Namun Kelemahan dari kebijakan tersebut adalah :
1.      Masih sulitnya membangun sinergisme dengan stakeholder karena visi yang belum sama dengan KPAND.
2.      Kurang siapnya SDM dari Komisi Penanggulangan AIDS daerah Kabupaten dan Kota.
3.      Masih adanya persepsi yang salah, mitos-mitos terhadap HIV/AIDS di masyarakat.
4.      Belum tersusunnya kebijakan-kebijakan atau ketentuan hukum terhadap penanggulangan HIV/AIDS dan narkoba.
5.      Terlalu banyaknya factor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan upaya penanggulangan HIV/AIDS dan narkoba.
6.      Permasalahan HIV/AIDS dan penyalahgunaan narkoba belum merupakan prioritas sehingga menyulitkan dalam pengadaan dana.
7.      Program-program penanggulangan HIV/AIDS dan narkoba yang masih berjalan sendiri-sendiri baik yang dilakukan oleh sektor pemerintah maupun masyarakat (Orsos dan LSM) mengakibatkan terjadinya tumpang tindih kegiatan.
8.      Adanya tantangan sosio-budaya, agama terutama dalam mempromosikan upaya penanggulangan HIV/AIDS.





0 komentar: