Tuesday, April 10, 2012

Five Level Prevention untuk Lepra/kusta

Lepra (penyakit hansen) adalah infeksi menahun yang terutama ditandai oleh adanya kerusakan saraf perifer (saraf diluar otak dan medulla spinalis), kulit, selaput lendir hidung, buah zakar (testis) dan mata.

Penyebab
Bakteri Mycobacterium leprae.

Faktor Risiko
Sekitar 50% penderita kemungkinan tertular karena berhubungan dekat dengan seseorang yang terinfeksi. Infeksi juga mungkin ditularkan melalui tanah, armadillo, kutu busuk dan nyamuk.

Sekitar 95% orang yang terpapar oleh bakteri lepra tidak menderita lepra karena sistem kekebalannya berhasil melawan infeksi. Infeksi dapat terjadi pada semua umur, paling sering mulai dari usia 20an dan 30an. bentuk lepromatosa 2 kali lebih sering ditemukan pada pria.

Gejala dan Tanda
Bakteri penyebab lepra berkembangbiak sangat lambat, sehingga gejalanya baru muncul minimal 1 tahun setelah terinfeksi (rata-rata muncul pada tahun ke-5-7). Jenis lepra menentukan prognosis jangka panjang, komplikasi yang mungkin terjadi dan kebutuhan akan antibiotik :

1) Lepra tuberkuloid ditandai dengan ruam kulit berupa 1 atau beberapa daerah putih yang datar. Daerah tersebut bebal terhadap sentuhan karena mikobakteri telah merusak saraf-sarafnya.

2) Pada lepra lepromatosa muncul benjolan kecil atau ruam menonjol yang lebih besar dengan berbagai ukuran dan bentuk. Terjadi kerontokan rambut tubuh, termasuk alis dan bulu mata.

3) Lepra perbatasan merupakan suatu keadaan yang tidak stabil, yang memiliki gambaran kedua bentuk lepra. Pada semua jenis, selama perjalanan penyakit baik diobati maupun tidak diobati, bisa terjadi reaksi kekebalan tertentu, yang kadang timbul sebagai demam dan peradangan kulit, saraf tepi dan kelenjar getah bening, sendi, buah zakar, ginjal, hati dan mata.
Berkenaan dengan Five Level Preventionnya adalah sebagai berikut :
  1. Primordial (pendegahan dini)
a.       Mempertahankan sesuatu yang positif di masyarakat misalnya kebiasaan hidup sehat (hygiene) mandi 3 kali sehari, kebiasaan mengkonsumsi sayur-sayuran.
b.      Policy (melalui kebijakan pemerintah setempat.
2.      Health Protection
a.       Penyuluhan kesehatan
b.      Sosialisasi
c.       Komunikasi personal
d.      Advokasi
e.       Stimulus eksternal/pendampingan (pelatihan)
f.       Media (media massa & media elektronik)
g.      Strategi (dengan menggunakan modul penyerta)
Teknik penokohan menggunakan orang-orang  yang berpengaruh.
3.      Spesific Protection
a.       Diisolasi
b.      Buteki (gunakan barier)
c.       Istri (harus menggunakan pengaman saat konsepsi)
4.      Early Diagnostic and Prompt Treathmen
a.       Screening (surveilens aktif)
5.      Disability Limitation
a.       Adekuasi (ketepatan pengobatan), bisa meningkatkan kesehatan.
6.      Rehabilitation
a.       Misalnya pemberian kaki palsu.
b.      Pemulihan Mental
c.       Therapi social untuk bisa diterima masyarakat.
 Demikian yang bisa saya bagikan, dan terima kasih sudah berkunjung..

0 komentar: