Saturday, January 28, 2012

ANCAMAN ABORSI : FAKTOR RISIKO BAGI KEADAAN KEHAMILAN YANG BURUK

F. Davari-tanha , M. Shariat, M. Kaveh, M. Ebrahimi and S. Jalalvand , M. Syariah, M. Kaveh, M. dan S. Jalalvand Ebrahimi

Department of Obstetrics and Gynecology, Mirza Kochak-Khan Hospital, Tehran University of Departemen Obstetri dan Ginekologi, Mirza Khan Kochak-Rumah Sakit, Universitas Teheran Medical Sciences, Tehran, Iran Ilmu Kedokteran, Teheran, Iran


Abstract
Literatur ilmiah menyatakan tentang aborsi mengancam adalah relatif terbatas pada hasil dari subyek dan kelangsungan hidup janin. Untuk menyelidiki secara prospektif risiko lanjut kehamilan pada perempuan dengan ancaman keguguran pada trimester pertama, penelitian prospektif kasus kontrol dilakukan pada 600 subjek, 150 perempuan dengan pendarahan pada trimester pertama dan 450 subjek asimtomatik usia-kontrol cocok. Keluaran utama yang dinilai adalah usia kehamilan dan berat badan pada saat lahir dimana merupakan kejadian lanjut kehamilan seperti persalinan prematur,  ketuban pecah dini (PPROM), lepasnya plasenta, dan berat badan lahir rendah (BBLR). Rata – rata keguguran pada trimester pertama pada kelompok dengan aborsi mengancam adalah sebesar 42,7%. Dibandingkan dengan kelompok kontrol, perempuan dengan keguguran mengancam lebih mungkin untuk melahirkan prematur masing-masing 14,7% dibandingkan dengan 52.9%, (risiko relatif 3.6, 95% confidence interval [CI] 2.4 – 4.8). Mereka juga lebih cenderung memiliki PPROM masing-masing 6.4% dibandingkan dengan 27.5%, (risiko relatif 4,2, 95% CI 2,6-6,9); lepasnya plasenta masing-masing 5.7 % dibandingkan dengan 1,5% (risiko relatif 3,6, 95% CI 1,2-11,3); BBLR, masing-masing dibandingkan dengan 7,1% (risiko relatif 2,1, 95% CI 1,1-3,8) dan posisi plasenta rendah, masing-masing 1,1% dibandingkan dengan 18,2%. Berat lahir masing-masing 2866 ± 523,3 gr dibandingkan dengan 591,4 ± 312,45 gr. Usia kehamilan masing-masing 35,71 ± 4,3 dibandingkan dengan 38,07 ± 3,2. Perdarahan pervaginam pada trimester pertama merupakan faktor risiko independen untuk hasil kejadian lanjut kehamilan yang merugikan dan faktor risiko ini harus menjadi bahan pertimbangan pada saat melakukan surveillance antenatal dan pengelolaan kehamilan pada kelompok berisiko.
.
© 2008 Tehran University of Medical Sciences. © 2008 Universitas Teheran of Medical Sciences. All rights reserved. Semua hak dilindungi.
Acta Medica Iranica 2008; 46(4): 314-320.
Key words: Kata kunci:
Aborsi mengancam, keguguran spontan, kelahiran prematur, ketuban pecah dini.



PENDAHULUAN
Keguguran mengancam, didefinisikan sebagai perdarahan pervaginam sebelum 24 minggu kehamilan, yang merupakan komplikasi yang umum terjadi dan mempengaruhi sekitar  20% dari kehamilan. Hal ini telah terbukti berhubungan dengan peningkatan risiko kehamilan yang buruk seperti persalinan prematur, berat badan lahir rendah, dan ketuban pecah dini. Selain itu, saat wanita hamil mengalami perdarahan maka akan dapat menyebabkan stres dan kecemasan bagi ibu mengenai kondisi janinnya. Jadi, diperlukan kemampuan diagnosis dan pengelolaan dini dalam upaya mencegah kematian dan kesakitan ibu hamil atau janin. (1).
Literatur ilmiah tentang aborsi mengancam relatif terbatas pada keluaran/hasil dari  subjek (janin) dan kelangsungan hidup janin. Kecilnya jumlah  pasien dan secara signifikan menyebabkan biasnya pengumpulan data akibat terbatasnya studi kehamilan yang mempelajari tentang komplikasi kehamilan yang mengakibatkan aborsi terancam (2-4). Banyak studi menunjukkan bahwa perdarahan pervaginam pada trimester pertama berkaitan erat dengan kehamilan yang buruk (2-9). Namun, terdapat sedikit studi yang mengevaluasi hasil persalinan dibandingkan hasil setelah dokumentasi dari embrio hidup. Secara umum, kejadian aborsi spontan setelah perdarahan pada trimester pertama menjadi 50% sebelum evaluasi sonografi untuk kelangsungan hidup janin (5, 6). Pada pemeriksaan USG, jika janin terdeteksi layak/hidup setelah trimester pertama perdarahan pervaginam maka 95% sampai 98% dari kehamilan tersebut masih akan berlanjut setelah 20 minggu kehamilan (5, 10).
Diagnosis ancaman keguguran dalam praktek klinisnya adalah dianggap sebagai hasil dari riwayat adanya perdarahan pervaginam dan temuan serviks tertutup pada pemeriksaan pervaginam lebih lanjut. Sebuah diagnosis definitif dari keguguran mengancam harus dilakukan setelah pemeriksaan ultrasonografi, untuk mengkonfirmasi keberadaan aktivitas jantung janin dalam kehamilan intrauterin (11).
Karena perdarahan yang berasal dari plasenta dalam sebagian besar kasus aborsi mengancam, kita hipotesis bahwa komplikasi kehamilan pada trimester pertama aborsi mengancam dapat meningkatkan risiko untuk komplikasi lain "plasenta terkait". Untuk mengevaluasi risiko perdarahan pada trimester pertama ini, kita evaluasi berbagai hasil termasuk didalamnya keguguran, kelahiran prematur, terhambatnya pertumbuhan janin didalam rahim (IUGR), preeklamsia, ketuban pecah dini (PPROM), lepasnya plasenta, plasenta previa, dan kelahiran cesar (12).
Perdarahan pervaginam pada trimester pertama merupakan hal yang umum terjadi pada 15 - 20% dari seluruh kehamilan yang normal. Meskipun merupakan kejadian umum, risiko yang merugikan bagi kehamilan dengan aborsi mengancam pada trimester pertama dan mengancam kehidupan embrio didefinisikan secara tidak lengkap (13). Namun, perdarahan pada kehamilan yang tidak dapat dijelaskan, mirip dengan keguguran mengancam dapat menjadi pengarah efek tidak langsung (mereka bukan menjadi faktor risiko independen untuk kematian neonatal awal) pada hasil perinatal melalui peningkatan risiko kelahiran prematur. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman keguguran kemungkinan berhubungan dengan disfungsi uteroplacenta. Asumsi ini didukung oleh fakta bahwa ancaman keguguran berhubungan secara independen dengan risiko lepasnya plasenta dan perdarahan antenatal yang tak dapat dijelaskan. Yang pertama tetap menjadi faktor risiko bahkan dalam jangka kehamilan dan memberikan kontribusi secara independen untuk kematian neonatal awal (1, 14).
Studi ini dilakukan pada pasien dengan aborsi mengancam pada trimester pertama untuk mengevaluasi hasil kehamilan.


BAHAN DAN METODE
Studi kasus-kontrol prospektif pada 150 perempuan dengan pendarahan di trimester pertama dan 450 subyek kontrol usia yang sama yang mengikuti perjanjian penelitian atau melahirkan di Rumah Sakit MKH Ilmu Kedokteran Universitas Teheran dari Oktober 2004 sampai dengan November 2006. Penelitian disetujui oleh Komite Etika Ilmu Kedokteran Universitas Teheran dan secara tertulis informed consent diperoleh dari semua subyek.
Baseline data diperoleh dari catatan pada kuesioner dan hasil wawancara pasien. Subyek dibagi menjadi dua group: 1) tidak ada perdarahan, 2) perdarahan (didefinisikan sebagai kelompok bercak atau sebagai mirip dengan menstruasi). Pasca melahirkan tindak lanjut dilakukan melalui wawancara telepon atau review rekam medis oleh koordinator penelitian di setiap situs.
Setiap insiden preeklamsia, IUGR (penurunan perkembangan janin), IUFD (janin gagal berkembang), berat badan lahir rendah (BBLR), posisi placenta rendah, plasenta previa, berat lahir dan jenis kelamin neonatal dicatat. Faktor perancu potensial diidentifikasi dan penyesuaian dibuat dalam model statistik. Faktor – faktor ini meliputi: usia ibu, graviditas dan sebelumnya mengalami aborsi berulang.
Berikut ini adalah beberapa hasil akibat lanjut kehamilan antara kedua kelompok yang dibandingkan: IUGR (perkiraan berat janin dengan menggunakan pemeriksaan ultrasound dengan Persentil < 10 atau berat saat lahir < 10 persentil (untuk usia kehamilan)), gestasional hipertensi (tekanan darah > 140/90 mm ​​Hg setidaknya pada dua kali pemeriksaan > 6 jam yang secara terpisah tanpa adanya bukti suatu kronis hipertensi), preeklamsia (kriteria hipertensi gestasional dan proteinuria yang bermakna), kelahiran prematur (kelahiran < 37 minggu kehamilan), PPROM (pecahnya ketuban <37 minggu kehamilan), lepasnya plasenta (terlepasnya plasenta dari implantasi/tertanamnya plasenta yang normal), plasenta previa (Sepenuhnya atau sebagian plasenta menutupi internal os/jalan lahir), plasenta letak rendah (ujung plasenta tidak sampai menutupi jalan lahir tapi berada dekat jalan lahir) dan kelahiran cesar.
Hasil diperoleh dan dianalisis dengan SPSS 13. Univariat dan multivariat analisis logistik regresi digunakan untuk mengevaluasi asosiasi / hubungan antara dua kelompok berkaitan dengan hasil kehamilan spesifik. Pasien tanpa perdarahan pervaginam pada trimester digunakan sebagai kelompok kontrol . P <0,05 dianggap significant secara statistik.


HASIL
Sebanyak 600 catatan dengan kelahiran lengkap antenatal, dan hasil pediatrik yang tersedia untuk review. Kelompok kontrol terdiri dari 450 (75%) pasien dan kelompok perdarahan terdiri dari 150 pasien (25%).
Karakteristik demografis dari dua kelompok dirangkum dalam Tabel 1. Secara statistik perbedaan signifikan yang dicatat di antara kelompok untuk usia dan paritas dan keguguran berulang sebelumnya. Dalam kelompok kasus, 18% memiliki posisi plasenta rendah di sonografi.

Tabel 1. Karakteristik Demografi dari Dua Kelompok Studi*
Karakteristik
Control
(n = 450)
Kasus
(n = 150)
P value
Umur (Tahun)
Plasenta Letak Rendah
Berat Lahir (gram)
Usia Kandungan pada saat kelahiran (minggu)
Kejadian keguguran berulang sebelumnya
Gravid/hamil
26.5 ± 4.52
5 (1.1%)
3123.45±591.4
38.07±3.2
3 (0.7%)
2±1.1
27.13 ± 4.76
16 (18.2%)
2866.25±523.3
35.71±4.3
9 (6 %)
2.17±1.3
0.014
0.001
0.001
0.001
0.205
0.145
*Data diberikan sebagai mean ±SD kecuali ditentukan lain
† Jumlah (Persen)

Semua subjek yang dilibatkan dalam penelitian ini merupakan subjek yang terdeteksi hamil melalui pemeriksaan USG pada saat penelitian dilakukan. Dibandingkan dengan kelompok kontrol, pasien dengan perdarahan pervaginam secara signifikan lebih mungkin untuk mengalami keguguran secara spontan (42,7%).
Karakteristik demografi neonatus ditunjukkan pada Tabel 2. Setelah penyesuaian dilakukan terhadap faktor pengganggu yang mencakup usia kehamilan saat melahirkan, secara statistik ditemukan perbedaan yang signifikan pada rata-rata berat lahir antara dua kelompok : kelompok kontrol, 3123.45 ± 591.4 gr; kelompok kasus, 2866.25±130.3 gr (P < 0.001). Nilai rata – rata dari usia kandungan pada saat kelahiran di kelompok kontrol dan pada kelompok perdarahan pervaginam adalah 38.07 ± 3.2 minggu dan 35.71 ± 4.3 minggu, masing – masing (P = 0.001).

Tabel 2. Karakteristik Demografi pada Neonatus*
Keluaran
Control
(n = 450)
Kasus
(n = 150)
P value
Anomali (Kelainan)
Apgar Skor †
Laki - Laki
Perempuan
8 (1.7%)
9
214 (47.87%)
233 (52.12%)
2 (2.3%)
8
50 (58.1%)
36 (41.86%)
0.742
0.633
0.081
0.081
*Data diberikan sebagai jumlah (persen) kecuali ditentukan lain
† Nilai Rata – rata (Mean)

Hasil dari persalinan bagi pasien dengan perdarahan pada trimester pertama dibandingkan dengan pasien tanpa perdarahan di deskripsikan pada Tabel 3. Tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap angka kejadian penurunan perkembangan janin (IUGR) (P = 0.808), preeklamsia (P = 0.121), jenis kelamin (P = 0.081), tipe kelahiran (P = 0.453), janin gagal berkembang (IUFD) (P = 0.474) atau plasenta previa antara kelompok kontrol dan subjek yang mengalami perdarahan pervaginam  pada trimester pertama.
Secara statistik, perbedaan signifikan yang dicatat dalam komplikasi ini : kelahiran prematur, 14.7 % dalam kelompok kontrol dibandingkan dengan 52.9 % dalam kelompok kasus (P < 0.001, resiko relatif 3.6, confidence interval 95 % 2.6 – 6.9); lepasnya plasenta, 5.7% dibandingkan dengan 1.5% (P < 0.015, resiko relatif 3.6, confidence interval 95 % 1.2 – 11.3); BBLR, 14.9% dibandingkan dengan 7.1% (P = 0.016, resiko relatif 2.1, confidence interval 95 % 1.1 – 3.8); dan posisi placenta rendah, 1.1% dibandingkan dengan 18.2 %, masing – masing secara signifikan lebih sering terjadi pada pasien dengan perdarahan dibandingkan dengan pasien kontrol.

Tabel 3. Komplikasi Kehamilan (Obstetrik) dengan Jumlah Perdarahan Pervaginam
Keluaran
Control
(n = 450)
Kasus
(n = 150)
P value
Adjusted OR
(95 % CI)
IUGR
BBLR
Lahir Prematur
IUFD
Preeklamsia
Anemia
PPROM
Placental abruption
Placenta previa
Lahir Cesar
18 (4 %)
32 (7.1%)
66 (14,7%)
6 (1.3%)
44 (9.8%)
139 (30.8%)
29 (6.4%)
7 (1.5%)
3 (0.6%)
237 (52.7%)
3 (3.4 %)
13 (14.9%)
46 (52.9%)
14 (14.1%)
4 (4.6%)
34 (22.7%)
24 (27.5%)
5 (5.7%)
1 (0.6%)
42 (42.8%)
0.088
0.016
0.001
0.747
0.121
0.054
0.001
0.015
1
0.453

2.1
3.6



4.2
3.6
Singkatan : IUGR, intrauterine growth restriction, BBLR, berat lahir rendah, IUFD, intrauterine fetal distress, PPROM, preterm premature rupture of membranes

PEMBAHASAN
Data – data ini menunjukkan bahwa keguguran mengancam tidak hanya terkait dengan keguguran tetapi juga dengan hasil kehamilan lebih lanjut. Hasil dari penelitian ini mengkonfirmasi temuan dari penulis lain, bahwa aborsi mengancam berkaitan dengan peningkatan risiko komplikasi kehamilan tertentu, yaitu lepasnya plasenta, kelahiran prematur, BBLR pada bayi, PPROM (ketuban pecah dini) (15, 16). Secara umum, tingginya kejadian aborsi dan komplikasi pada ancaman keguguran mengindikasikan perlunya perancangan program yang tepat dalam perawatan dan juga edukasi bagi para wanita yang berisiko tinggi. Keterbatasan potensial dari penelitian ini adalah bahwa keparahan perdarahan pervaginam didasarkan pada deskripsi subjektif oleh pasien. Namun, penilaian akhir dari perdarahan pervaginam didasarkan pada laporan pasien. Oleh karena itu, kami percaya hasil penelitian ini dapat diterapkan pada praktek klinis.
Hasil penelitian ini juga mendukung bukti lain bahwa, pada beberapa pasien yang mengalami perdarahan pervaginam pada trimester pertama mungkin mengindikasikan adanya disfungsi plasenta, yang mungkin muncul dalam kehamilan kehamilan lebih lanjut dengan hasil kehamilan yang buruk yang juga terkait dengan disfungsi placenta (17). Dalam satu studi, pengamatan dilakukan terhadap pasien yang melaporkan adanya pendarahan ringan, pengamatan tersebut berupa peningkatan risiko preeklamsia, persalinan prematur, lepasnya plasenta dan kelahiran cesar meskipun risiko tersebut rendah dengan OR <2,0 (16). Untuk pasien yang melaporkan mengalami perdarahan pervaginam berat selama trimester pertama, maka pengamatan dilakukan terhadap peningkatan risiko IUGR (penurunan perkembangan janin), kelahiran prematur, PPROM (ketuban pecah dini), lepasnya plasenta dan lahir cesar. Dengan pengecualian terhadap bedah cesar (OR, <2.0) Hubungan asosiasi ini nampak signifikan secara statistik maupun klinis (16, 18). Dalam penelitian yang kami lakukan, terjadi peningkatan risiko kelahiran prematur (rr= 3.6), PPROM (rr= 4.2), lepasnya plasenta (rr= 3.6) and dan BBLR (rr = 2,1).
Pada tahun 1993, Verma et al. Melaporkan bahwa kehamilan- induksi hipertensi secara signifikan lebih umum terjadi pada pada subyek dengan aborsi terancam dan kehamilan normal dibandingkan dengan subyek tanpa pendarahan pervaginam (masing-masing 6% dibandingkan 4,7%, P < 0.05) (2). Namun, penelitian mereka dibatasi oleh jumlah subjek yang hanya 113 subyek. Studi lain tidak menemukan adanya hubungan antara perdarahan pervaginam pada trimester pertama dan hipertensi gestasional, tapi menemukan bahwa pasien dengan perdarahan ringan secara statistik lebih cenderung untuk mengalami preeklamsia (16). Hubungan ini lemah OR <2,0. Demikian pula hubungan antara perdarahan pervaginam dan preeklamsia tidak ditemukan hubungan yang signifikan.
Kelahiran prematur sebelum kehamilan 37 minggu terjadi pada 7-11% kehamilan, namun hal tersebut bertanggung jawab terhadap 85 % kematian dari proses pembentukan janin.Meskipun terjadi kemajuan secara signifikan dalam dunia kedokteran perinatal, namun insiden kelahiran prematur tetap tidak berubah. Prediksi kelahiran prematur dari metode yang tersedia saat ini tidak dapat diandalkan, oleh karena itu, hubungan antar faktor risiko yang terkait tetap menjadi ukuran penting untuk mengidentifikasi kehamilan beresiko (19, 20). Hal ini khususnya terlihat oleh peningkatan secara signifikan rata-rata angka kematian bayi neonatus yang lahir dari ibu yang mengalami keguguran terancam, dan kemungkinan sekunder peningkatan rata-rata angka kelahiran prematur dan lepasnya plasenta. Hanya faktor risiko potensial ditemukan terkait secara signifikan dengan risiko kelahiran prematur pada wanita dengan keguguran mengancam adalah perdarahan antepartum yang tidak dapat dijelaskan bukan faktor-faktor lain, seperti merokok atau ketuban pecah dini. Dalam penelitian kami, kelahiran prematur lebih umum terjadi pada kelompo yang mengalami perdarahan (rr = 3,6).
Hubungan antara perdarahan pervaginam dan kelahiran prematur juga telah diteliti oleh yang lain (21 - 23). Batzofin dkk. (4) and Williams et al . (4) dan Williams et al. (7) yang melaporkan bahwa pasien dengan perdarahan memiliki risiko dua kali lipat lebih besar untuk melahirkan prematur dibandingkan dengan pasien tanpa perdarahan. Penelitian yang dilakukan oleh Williams et al. adalah terbatas pada pendarahan trimester pertama (7); Sedangkan Batzofin et al. Penelitian yang dilakukan, subjek termasuk pasien dengan perdarahan sampai 20 minggu (4). Penelitian yang dilakukan Strobino dan Pantel-Silverman gagal untuk menunjukkan suatu hubungan antara kelahiran prematur sebelum 36 minggu kehamilan dengan perdarahan pervaginam ringan dalam kehamilan trimester pertama atau kedua (24). Penelitian lainnya menemukan  bahwa kelahiran prematur meningkat secara signifikan pada pasien dengan perdarahan ringan lainnya (OR <2.0)  atau perdarahan berat lainnya (OR, 3.0) pada perdarahan di trimester pertama(16).
Penelitian lain juga melaporkan bahwa pasien dengan aborsi mengancam pada trimester pertama juga cenderung meningkatkan  kejadian  lepasnya plasenta dan IUGR (penurunan perkembangan janin) (1,25). 25). Perdarahan plasenta mungkin berulang di pada kejadian kehamilan lanjut yang mengakibatkan lepasnya plasenta. Dalam penelitian ini, lepasnya plasenya secara signifikan lebih sering terjadi pada kelompok kasus (rr=3.6) tapi hal tersebut tidak meningkatkan risiko untuk terjadinya IUGR (penurunan perkembangan janin) (rr=0.088).
Haddow dkk. melaporkan bahwa terjadi peningkatan risiko terhadap berat lahir rendah (<2500 gr) dalam kehamilan yang memiliki komplikasi perdarahan pervaginam (26). Bayi dari pasien dengan perdarahan berat hampir memiliki perbedaan sebesar 200 gr dari berat lahir dibandingkan dengan bayi dari kelompok kontrol setelah dihitung dari kelahiran prematur. Dalam studi saat ini, risiko  BBLR meningkat (rr = 2.1).
Temuan kami menguatkan penelitian lain yang menunjukkan hubungan antara aborsi mengancam dan PPROM (4-6). Meskipun penyebabnya belum jelas, hal ini menghipotesiskan bahwa ganggunan dari  chorionic-amniotic plane oleh perdarahan yang berdekatan dapat membuat membran lebih rentan terhadap ruptur. Alternatif lainnya, adanya perdarahan yang berkepanjangan dapat bertindak sebagai nidus untuk infeksi intrauterin. Perdarahan plasenta persisten atau berulang bisa juga merangsang kontraksi rahim subklinis yang menghasilkan perubahan serviks dan akhirnya menyebabkan pecahnya ketuban dini. Dalam penelitian kami PPROM meningkat pada kelompok kasus (rr = 4,2).
Placenta previa adalah penyebab umum perdarahan pervaginam pada kehamilan. Ada kemungkinan bahwa pada trimester pertama perdarahan bisa menjadi refleksi dari plasenta previa di beberapa pasien. Das et al. melaporkan bahwa peningkatan risiko posisi plasenta letak rendah di antara pasien dengan aborsi mengancam di laporkan bahwa tidak ada perbedaan dalam lokasi plasenta dibandingkan dengan subyek kontrol dengan 36 minggu kehamilan (15). Lainnya menemukan bahwa rata – rata kejadian plasenta previa tinggi pada pasien dengan pendarahan pervaginam berat selama trimester pertama, namun hubungan ini secara statistik tidak signifikan (14, 4). Data kami menunjukkan bahwa plasenta previa tidak meningkat pada kelompok kasus namun kehadiran posisi plasenta rendah  meningkat pada kelompok kasus (P <0,001).
Saat ini, tidak ada literatur  yang menginformasikan tentang aborsi mengancam dan kelahiran dengan bedah caesar. Salah satu studi menyugestikan bahwa secara statistik terdapat hubungan antara aborsi mengancam dan risiko untuk lahir cesar (4). Dalam studi ini, melahirkan dengan operasi cesar tidak tinggi pada kelompok kasus (P < 0.455).
Sebagai kesimpulan, laporan penelitian ini adalah pasien dengan aborsi mengancam pada trimester pertama akan meningkatkan risiko untuk terjadinya keguguran spontan dan kejadian lanjutan kehamilan yang merugikan. Untuk pasien yang dilaporkan mengalami perdarahan pervaginam selama trimester pertama, hasil observasinya adalah bahwa terjadi peningkatan risiko BBLR, kelahiran prematur, PPROM (ketuban pecah dini), lepasnya plasenta, dan posisi plasenta rendah. Asosiasi ini tampaknya signifikan baik secara statistik dan klinis. Karena prognosis keseluruhan adalah menguntungkan, hasil ini dapat digunakan untuk membantu meyakinkan pasien dengan aborsi mengancam selama trimester pertama Pada saat yang sama, dokter harus menyadari hasil yang merugikan yang berkaitan dengan perdarahan trimester pertama dan tetap waspada untuk tanda-tanda komplikasi ini.


Konflik Kepentingan
Para penulis menyatakan bahwa mereka tidak memiliki kepentingan untuk bersaing.

REFERENSI

1.      Mulik V, Bethel J, Bhal K. A retrospective populationbased study of primigravid women on the potential effect of threatened miscarriage on obstetric outcome. J Obstet Gynaecol. 2004 Apr;24(3):249-253.
2.      Verma SK, Premi HK, Gupta TV, Thakur S, Gupta KB, Randhawa I. Perinatal outcome of pregnancies complicated by threatened abortion. J Indian Med Assoc. 1994 Nov;92(11):364-365.
3.      Hertz JB, Heisterberg L. The outcome of pregnancy after threatened abortion. Acta Obstet Gynecol Scand. 1985;64(2):151-156.
4.      Batzofin JH, Fielding WL, Friedman EA. Effect of vaginal bleeding in early pregnancy on outcome. Obstet Gynecol. 1984 Apr;63(4):515-518.
5.      Farrell T, Owen P. The significance of extrachorionic membrane separation in threatened miscarriage. Br J Obstet Gynaecol. 1996 Sep;103(9):926-928.
6.      Chung TK, Sahota DS, Lau TK, Mongelli JM, Spencer JA, Haines CJ. Threatened abortion: prediction of viability based on signs and symptoms. Aust N Z J Obstet Gynaecol. 1999 Nov;39(4):443-447.
7.      Williams MA, Mittendorf R, Lieberman E, Monson RR. Adverse infant outcomes associated with firsttrimester vaginal bleeding. Obstet Gynecol. 1991 Jul; 78(1):14-18.
8.      Bennett GL, Bromley B, Lieberman E, Benacerraf BR. Subchorionic hemorrhage in first-trimester pregnancies: prediction of pregnancy outcome with sonography. Radiology. 1996 Sep; 200(3):803-806.
9.      Sipilä P, Hartikainen-Sorri AL, Oja H, Von Wendt L. Perinatal outcome of pregnancies complicated by vaginal bleeding. Br J Obstet Gynaecol. 1992 Dec;99(12):959-963.
10.   Uerpairojkit B, Charoenvidhya D, Tannirandorn Y, Wacharaprechanont T, Manotaya S, Samritpradit P, Somprasit C. Sonographic findings in clinically diagnosed threatened abortion. J Med Assoc Thai. 2001 May; 84(5):661-665.
11.   Park IY, Park CH, Lee G, Shin JC. Prognosis of threatened abortion by embryonic/fetal heart beat rate. Ultrasound Med Biol. 2006; 32(5): 264.
12.   Bowe P, Murphy H. Complications of pregnancy following threatened abortion. Ir J Med Sci. 1987 Nov;156(11):328-329.
13.   Nagy S, Bush M, Stone J, Lapinski RH, Gardó S. Clinical significance of subchorionic and retroplacental hematomas detected in the first trimester of pregnancy. Obstet Gynecol. 2003 Jul;102(1):94-100.
14.   Tannirandorn Y, Sangsawang S, Manotaya S, Uerpairojkit B, Samritpradit P, Charoenvidhya D. Fetalloss in threatened abortion after embryonic/fetal heart activity. Int J Gynaecol Obstet. 2003 Jun;81(3):263-266.
15.   Das AG, Gopalan S, Dhaliwal LK. Fetal growth and perinatal outcome of pregnancies continuing after threatened abortion. Aust N Z J Obstet Gynaecol. 1996 May;36(2):135-139.
16.   Weiss JL, Malone FD, Vidaver J, Ball RH, Nyberg DA, Comstock CH, Hankins GD, Berkowitz RL, Gross SJ, Dugoff L, Timor-Tritsch IE, D'Alton ME; FASTER Consortium. Threatened abortion: A risk factor for poor pregnancy outcome, a population-based screening study. Am J Obstet Gynecol. 2004 Mar;190(3):745-750.
17.   Alcázar JL, Ruiz-Perez ML. Uteroplacental circulation in patients with first-trimester threatened abortion. Fertil Steril. 2000 Jan;73(1):130-135.
18.   Patel BI, Trivedi V. Threatened abortion outcome in relation to intrauterine clot site and not only volume. Int J Gynecol Obstet. 2000;70(4): D44.
19.   Norwitz ER, Schust DJ, Fisher SJ. Implantation and the survival of early pregnancy. N Engl J Med. 2001 Nov 8;345(19):1400-1408.
20.   Tadmor OP, Achiron R, Rabinowiz R, Aboulafia Y, Mashiach S, Diamant YZ. Predicting first-trimester spontaneous abortion. Ratio of mean sac diameter to crown-rump length compared to embryonic heart rate. J Reprod Med. 1994 Jun; 39(6):459-462.
21.   Qasim SM, Sachdev R, Trias A, Senkowski K, Kemmann E. The predictive value of first-trimester embryonic heart rates in infertility patients. Obstet Gynecol. 1997 Jun; 89(6):934-936.
22.   Tannirandorn Y, Manotaya S, Uerpairojkit B, Tanawattanacharoen S, Wacharaprechanont T, Charoenvidhya D. Reference intervals for first trimester embryonic/fetal heart rate in a Thai population. J Obstet Gynaecol Res. 2000 Oct;26(5):367-372.
23.   Mäkikallio K, Tekay A, Jouppila P. Uteroplacental hemodynamics during early human pregnancy: a longitudinal study. Gynecol Obstet Invest. 2004;58(1):49-54.
24.   Strobino B, Pantel-Silverman J. Gestational vaginal bleeding and pregnancy outcome. Am J Epidemiol. 1989 Apr; 129(4): 806-815.
25.   Szekeres-Bartho J, Polgar B, Kelemen K, Par G, Szereday L. Progesterone-mediated immunomodulation and anti-abortive effects: the role of the progesteroneinduced blocking factor. Poster presentation. 10th World Congress on the Menopause,10-14 June 2002, Berlin.
26.   Haddow JE, Knight GJ, Kloza EM, Palomaki GE. Alpha-fetoprotein, vaginal bleeding and pregnancy risk. Br J Obstet Gynaecol. 1986 Jun; 93(6):589-593.

Ini adalah hasil terjemahan dari bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia, yang dilakukan oleh teman-teman kuliah saya. ^_^

0 komentar: