Sunday, December 25, 2011

Penggunaaan Sistem Informasi Geografi (SIG) dalam pengenadalian Malaria di Kota Mamuju


Malaria merupakan salah satu dari penyakit infeksi yang terkenal di dunia dan merupakan masalah global dalam bidang kesehatan masyarakat (1). Malaria menjadi perhatian dunia karena 1,5 sampai 2,7 juta orang meninggal setiap tahunnya dan lebih banyak lagi jumlahnya pada penderita penyakit tersebut (2). Penyakit ini juga menjadi penyebab terbesar pada ancaman kematian sekitar 40% populasi penduduk dunia di negara-negara miskin(3). Di Indonesia, malaria jadi issue terbesar dengan ditemukannya 6 juta kasus klinis dan 700 kematian setiap tahunnya. (2).  Selain fakta tersebut, penyakit malaria juga mempunyai pengaruh yang sangat besar pada angka kesakitan dan kematian bayi, anak balita dan ibu melahirkan, serta dapat menyebabkan penurunan produktifitas kerja.(4)
Peningkatan kasus malaria disebabkan oleh beberapa faktor, seperti : resistensi nyamuk terhadap insektisida, resistensi parasit terhadap obat, pembukaan lahan baru, kurangnya pendanaan sehingga menyebabkan kurangnya kegiatan kontrol penyakit. .(5).  Tidak ada insektisida alternatif yang benar-benar efektif dan efisien sedangkan pengembangan pestisida baru merupakan proses yang lama dan cukup mahal. selain itu, Resistensi obat terhadap seringnya penggunaan anti malaria telah berkembang dengan cepat.(6). Pembukaan lingkungan akibat pembukaan lahan hutan menyebabkan peningkatan pemaparan serangga vektor penyakit kepada manusia.(7) Dukungan pemerintah masih sangat minim terhadap pengembangan riset penyakit tropis malaria baik dari segi pendanaan maupun fasilitas riset. aktivitas penelitian untuk kontrol penyakit tropis khususnya penyakit malaria berjalan sendiri-sendiri tanpa ada jejaring yang kuat. Hal ini menyebabkan daya jangkau penelitian rendah, dana penelitian yang diperoleh terbatas, aktivitas penelitian yang dikerjakan juga kadang tumpang tindih. (8) Banyak negara-negara dengan kasus malaria yang tinggi menemukan kesulitan dalam melakukan intervensi penyakit tersebut (9)
Strategi terbaru untuk mengontrol epidemi penyakit infeksi tergantung dari surveilans untuk menemukan kasus baru yang diikuti dengan tindakan cepat dalam mengontrol epidemi. Alokasi sumber daya dalam penanggulangan malaria yang berdasarkan perkiraan risiko-risiko pada daerah yang prevalensinya tinggi  menyebabkan ketidak seimbangan antara sumberdaya dalam program pencegahan. (10) Sistem surveilans penyakit malaria perlu di dukung dengan sumber daya manusia yang profesional,dana serta sarana dan prasarana yang memadai sehingga petugas dapat mengolah, menganalisis data dengan baik dan memanfaatkan informasi yang dihasilkan yang dapat dilaksanakan secara optimal terutama dalam pengambilan keputusan.(11). Agar kegiatan case finding malaria dapat berjalan sesuai dengan sasaran atau lokasi daerah endemis, maka perlu didukung oleh sistem informasi geografis (SIG). (12). Penggunaan sistem informasi geografis telah berkembang sejak 2 dekade yang lalu untuk menggambarkan dan memprediksikan pola geografis dan waktu transmisi penyakit menular oleh vector serta prevalensi penyakit (13). Pelaksanaan survey dengan dukungan SIG perlu dilakukan karena sistem informasi geografis diyakini dapat mendukung pengambilan keputusan spasial, dan mampu mengintegrasikan deskripsi - deskripsi lokasi dengan karakteristik-karakteristik fenomena yang ditemukan pada suatu lokasi, tertuma kecenderungan peningkatan kasus malaria menurut bulan. (12). 
SIG merupakan alat untuk melakukan pemantauan dalam kesehatan masyarakat dalam berbagai lokasi geografis, utamanya untuk menggambarkan risiko malaria. (14) SIG menyediakan data –data yang tepat untuk visual dan analisis data epidemiologi, menunjukkan tren, ketergantungan dan hubungan yang mungkin sulit untuk dicakup dalam format table. Sumberdaya kesehatan masyarakat, penyakit spesifik dan kejadian kesehatn lainnya dapat dipetakan dalam hubungannya dengan pengaruh lingkungan dan kesehatan yang ada dan infrastruktur social. Seperti informasi yang dapat digunakan sebagai alat pemetaaan untuk mengawasi dan manajemen program penyakit dan kesehatan masyarakat.. (15) selain itu SIG memudahkan pengguna untuk membuat query interaktif, menganalisa informasi spasial dan mengedit data. (16) Keuntungan utama dari platform SIG adalah pembaharuan data yang cepat, segera setelah data yang dimasukkan kedalam peta yang direvisi yang siap menyoroti titik masalah, dibandingkan dengan menggunakan sistem manual yang tidak layak saat ini. Elektronik transfer data jauh lebih cepat daripada pos komunikasi. Dimana dapat memberikan persepsi baru tentang malaria dalam manajemen data, penyebaran informasi global dan berbagi informasi. Keuntungan lain adalah bahwa setelah infrastruktur sudah siap, mudah untuk mengubahnya menjadi sistem surveilans pada penyakit lain. (17)
SIG malaria dapat digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan dalam penanggulangan malaria. (18). Informasi yang disediakan melalui GIS dapat digunakan untuk membantu kegiatan perencanaan yang paling efisien untuk melakukan kegiatan pemantauan. (19) Perencanaan dan pemantauan program pengendalian malaria yang berkualitas baik memerlukan data yang dapat menentukan beban penyakit di daerah geografis dan ekologis di suatu Negara (20) Para pengambil kebijakan dibidang kesehatan sebaiknya memahami tindakan ‘non medis’ berupa pemanfaatan SIG ini. Dengan SIG dapat memahami karakter wilayah, kontrol dini sebelum terjun dilapangan, dan akhirnya dapat mengambil kebijakan tentang kesehatan yang tepat sasaran(21). Dalam beberapa tahun terakhir, ada minat yang berkembang di antara departemen kesehatan dan lembaga-lembaga sektor kesehatan lainnya dalam penggunaan Sistem Informasi Geografis (SIG) sebagai alat untuk memperkuat analisis, manajemen, monitoring dan kapasitas pengambilan keputusan di kesehatan masyarakat, dan juga sebagai alat untuk advokasi dan komunikasi antara personil teknis, pembuat kebijakan dan masyarakat umum (3). Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengetahui  Penggunaaan Sistem Informasi Geografi (SIG) Untuk Pengendalian Malaria jika dilaksanakan di Kota Mamuju ibukota dari Propinsi Sulawesi Barat yang merupakan daerah endemik malaria.


REFERENSI

1.     Simon I Hay, Carlos A Guerra, Peter W Gething, et al. A World Malaria Map: Plasmodium falciparum Endemicity in 2007. PLoS Med. 2009 doi: 10.1371/journal.pmed.1000048.
2.     Neil G Sipe, & Pat Dale. Challenges in using geographic information systems (GIS) to understand and control malaria in Indonesia. The decade in review. Malaria Journal 2003, 2:36.
3.     Adebayo Peter Idowu, Nneoma Okoronkwo and Rotimi E. Adagunodo. Spatial Predictive Model for Malaria in Nigeria. www.jhidc.org. Vol.3 • No.2 • 2009
4.     Sampri Peter, 2007. Profil Gebrak Malaria. http://wwwpetersampricom.blogspot.com.
5.     Bretas, Gustavo. Geographic Information Systems for the Study and Control of Malaria. Deptartimento Epidemiologia, Instituto de Medicina Social, Universidade do Estado de Rio de Janeiro, Brazil. 1996.
6.     Informasi Tentang Dunia teknologi Terkini. Pengendalian Penyakit Tropis Tidak Optimal Karena Tidak      Didukung Riset Yang Optimal. 2008.
7.     Hidayati Sri. Mewaspadai Malaria Sebagai re-emerging Disease. Gerai Edisi Januari 2006 (Vol.5 No.6)
9.     Lawrence m. Barat. Four Malaria Success Stories: How Malaria Burden Was Successfully Reduced In Brazil, Eritrea, India, And Vietnam. Am. J. Trop. Med. Hyg., 74(1), 2006, pp. 12-16.
10. Panditrao Mayuri. Use of Geographic Information Systems (GIS) to Predict Vector-borne Disease Outbreaks: A crucial step towards cost effective prevention of diseases. White paper submitted to the Bears Breaking Boundaries Contest 2006.
11. Evaluasi Sistem Surveilans Penyakit Malaria Di Daerah High Case Incidence (HCI) dan Non HCI Di Kabupaten Kulon Progo Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. FETP Universitas Gajah Mada.
12. Zakaria. 2009. Metode Surveilans Dengan Arview GIS. Kendari. Sulawesi Tenggara.
13. Bogh et al. High Spatial Resolution Mapping Of Malaria Transmission Risk In The Gambia, West Africa, Using Landsat Tm Satellite ImageryAm. J. Trop. Med. Hyg., 76(5), 2007, pp. 875–881
14. Shirayama et al. Geographic information system (GIS) maps and malaria control monitoring: intervention coverage and health outcome in distal villages of Khammouane province, Laos. Malaria Journal 2009, 8:217doi:10.1186/1475-2875-8-217.
15. C.P. Johnson, & Jasmin Johnson. GIS: A Tool for Monitoring and Management of Epidemics. Map India 2001 Conference, New Delhi.
16. Haifani Akhmad Muktaf . Aplikasi Sistem Informasi Geografi Untuk Mendukung Penerapan Sistem Manajemen Resiko Bencana Di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008 ISBN : 978-979-1165-74-7 V-163.
17. Srivastava Aruna et al. Identification of Malaria Hot Spots For Focused Intervention In Tribal State of India: a GIS Based Approach. International Journal of Health Geographics 2009, 8:30doi:10.1186/1476-072X-8-30
18. Anonim.2009. Epidemiologi Malaria dengan GISMuslim_bintan Weblog.html.
19. Paschal CHACHA, Utilizing GIS Technology in the Fight against Malaria. 3rd ESRI Eastern Africa User Conference (EAUC) Nairobi, Kenya, October 23-24, 2008. Tanzania.
20. Mabunda et al. A country-wide malaria survey in Mozambique. I. Plasmodium falciparum infection in children in different epidemiological settings. Malaria Journal 2008, 7:216doi:10.1186/1475-2875-7-216
21. Amhar, Fahmi.2009. GIS Untuk Optimasi Kesehatan Masyarakat.






1 komentar: