Wednesday, May 2, 2012

Catatan kaki tugas Twin Study

Setelah usai presentase tentang judul di bawah ini, dosen memberikan tugas sebagai catatan kaki dan inilah jawaban dari kelompok kami..

FOOTNOTE
PRESENTASI KELOMPOK
A TWIN –STUDY OF GENETIC CONTRIBUTIONS TO HEARING ACUITY IN LATE MIDDLE AGE
1.   Bagaimana Kesimpulan dari hasil penelitian tersebut
2.   Kasus: Bila Ira berasal dari daerah lingkungannya berbicara dengan frekuensi bunyi normal 18 dB , kemudian dia menikah dengan orang Sidrap yang memiliki frekuensi bunyi berbicara diatas dari kebiasaan Ira sebelumnya, jika Ira berada dalam lingkungan suaminya secara terus menerus, apakah Ira akan menderita tuli alias sudah tidak biasa mendengar suara yang normal karena terpapar lingkungan yang bising?
< Jawaban>
1.   Kesimpulan
·      Hasil menunjukkan adanya pengaruh faktor genetik dan lingkungan yang memegang peranan penting terhadap hilangnya kemampuan mendengar yang diperlihatkan pada kelompok pasangan kembar
·      Penelitian ini menunjukkan korelasi intraclass kembar untuk ketajaman mendengar pada pasangan kembar MZ dan DZ. Dimana korelasi antara ambang pendengaran untuk telinga dengan pendengaran yang lebih baik untuk kedua rentang frekuensi adalah ± dua kali lebih besar untuk kembar MZ dibandingkan kembar DZ. Ini menunjukkan bahwa factor genetik mempengaruhi ketajaman pendengaran pada kelompok usia  tersebut.
·      Terdapat pengaruh genetik spesifik untuk masing-masing rentang frekuensi yang mempengaruhi ketajaman pendengaran untuk frekuensi menengah dan frekuensi tinggi. Dimana Kontribusi genetik pada Frekuensi tinggi (B), yang mirip dengan varians fenotipik menyumbang efek 53% dan 66% (masing-masing varians), Pada frekuensi tengah (A), efek menyumbang 45% dan 65%  untuk telinga dengan pendengaran kurang maupun yang baik.Efek aditif genetik Dalam  model C dan D meliputi 70% dan 68% dari varians fenotipik untuk telinga dengan pendengaran yang lebih baik pada masing2 frekuensi tengah dan tinggi. Sebaliknya, untuk telinga dengan pendengaran yang kurang, efek genetik menyumbang 41% dan 54% dari varians pada masing2 frekuensi menengah dan tinggi.
·      Dalam penelitian ini Faktor lingkungan juga memiliki berkontribusi dalam menurunkan ketajaman pendengaran karena  laki-laki menjadi lebih mungkin terpapar efek bunyi mesin keras dalam lingkungan pekerjaan yang akhirnya mempengaruhi gangguan pendengaran.
2.    Ira mengalami Gangguan pendengaran
Tuli atau gangguan dengar dalam kedokteran adalah kondisi fisik yang ditandai dengan penurunan atau ketidakmampuan seseorang untuk mendengarkan suara. Untuk kasus demikian, perlu diketahui seberapa lama tingkat keterpaparan terhadap suara yang melebihi batas normal ia dengarkan setiap hari, dan perlu pula di ketahui seberapa tinggi intensitas suara yang sering di dengarkan oleh ira.
Tingkat desibel (dB) dan bunyi yang berbahaya
Skala desibel
Contoh bunyi
0
Bunyi terendah yang bisa didengar manusia
10
Bernafas Normal
20
Berbisik dengan jarak sekitar 1.5 m
30
Perpustakaan yg tenang dan bisikan lembut
40
Ruang tamu, kantor yang tenang, kamar tidur jauh dari lalu lintas
50
Trafik ringan, suara refrigerator, tiupan lembut
45-60
BabyPlus ketika di dengar oleh bayi melalui perut ibu
60
AC berjarak sekitar 6 m, percakapan, bunyi mesin jahit
70
Trafik yang sibuk, restoran ramai. Pada skala decibel ini, suara akan menggangu pendengaran kita apabila terjadi terus menerus
Zona Berbahaya
80
Kereta bawah tanah, kemacetan di kota, bunyi alarm berjarak 20 cm, suara pabrik. Suara-suara ini sangat berbahaya apabila kita mendengar lebih dari 8 jam.
90
Suara truk, sepeda motor, alat-alat rumah tangga bersuara keras, toko peralatan, pemotong rumput. Di saat kekerassan suara meningkat, waktu “aman“ menurun; kerusakan bisa terjadi di bawah 8 jam
95
Suara aliran darah pada kandungan (maternal blood pulse)
100
Gergaji listrik, bor mesin
110
Tempat bermain video games
120
Konser Rock di depan speaker, klub kesehatan, studio aerobik, bunyi petir
130
Suara drum/ perkusi pada simponi, balapan mobil
140
Bunyi tembakan, pesawat lepas landas
150
Suara jet, ledakan balon
160
Suara pistol
170
Suara senapan
180
Peluncuran roket
Information provided by the American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery Inc., Washington, D.C.1983 and League for the Hard of Hearing 1996-2003.
Sebagai contoh beberapa kebisingan yang menyebabkan kebisingan yang kekuatannya diukur dengan dB atau desibel adalah :
1.       Orang ribut / silat lidah = 80 dB
2.       Suara kereta api / krl = 95 dB
3.       Mesin motor 5 pk = 104 dB
4.       Suara petir = 120 dB
5.       Pesawat jet tinggal landas = 150 dB
Ambang batas maksimum yang aman bagi manusia adalah 80 desibel sehingga jika lingkungan baru tempat tinggal ira memiliki tingkat suara melebihi 80 desibel dan didengarkan terus menerus akan menyebabkan gangguan pendengaran terhadap Ira yang sebelumnya tidak mendengarkan suara sebesar itu. Sebagaimana di katakana dalam contoh beberapa kebisingan yang menyebabkan kebisingan yang kekuatannya di ukur dengan dB atau decibel di atas yaitu bahwa orang ribut/silat lidah = 80 dB sebenarnya sudah batas maksimum yang aman dan jika kriteria suara orang yang berada di lingkungan baru Ira melebihi suara orang ribut/silat lidah maka akan menyebabkan ketulian kepada Ira.
Jika merujuk Information provided by the American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery Inc., Washington, D.C.1983 and League for the Hard of Hearing 1996-2003. Zona berbahaya mulai masuk pada 80 dB yakni seperti Kereta bawah tanah, kemacetan di kota, bunyi alarm berjarak 20 cm, suara pabrik. Suara-suara ini sangat berbahaya apabila kita mendengar lebih dari 8 jam, dan ketika suara yang didengarkan Ira akibat ributnya orang di lingkungan barunya setara dengan bunyi suara pabrik atau seperti dalam suasana macet dikota, maka Ira berada dalam zona tidak aman yang artinya akan mengalami gangguan pendengaran terlebih ketika mendengarkan suara lebih dari 8 jam.
Kesepakatan para ahli mengemukakan bahwa batas toleransi untuk pemaparan bising selama 8 jam perhari, sebaiknya tidak melebihi ambang batas 85 dBA. Pemaparan kebisingan yang keras selalu di atas 85 dBA, dapat menyebabkan ketulian sementara. Biasanya ketulian akibat kebisingan terjadi tidak seketika sehingga pada awalnya tidak disadari oleh manusia. Baru setelah beberapa waktu terjadi keluhan kurang pendengaran yang sangat mengganggu dan dirasakan sangat merugikan.
Kemungkinan yang di alami ira adalah Temporary Threshold Shift (TTS) atau kurang pendengaran akibat bising sementara (KPABS). Adalah efek jangka pendek dari pemaparan bising, berupa kenaikan ambang sementara yang kemudian setelah berakhirnya pemaparan terhadap bising akan kembali normal. Faktor yang mempengaruhi terjadinya TTS adalah intensitas dan frekuensi bising, lama waktu pemaparan dan lama waktu istirahat dari pemaparan, tipe bising dan kepekaan individual.
Sehingga ketika Ira kembali ke lingkungan tempat tinggalnya semula akan mengalami gangguan pendengaran karena sudah terbiasa terpapar dengan suara-suara yang tinggi, sehingga dia perlu melakukan penyesuaian dengan lingkungannya semula, dan ketika Ira ingin mengembalikan pendengarannya, maka perlu waktu untuk kembali normal kembali.

1 komentar:

uii profile said...

saya mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia
Artikel yang menarik, bisa buat referensi ini ..
terimakasih ya infonya :)